Sejarah Krakatau dan Berpetualang Seru di Gunung Anak Krakatau (9)

Petugas Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG mendapat laporan kepanikan masyarakat di wilayah Provinsi Banten dan Lampung. Dikedua wilayah ini air laut mendadak pasang dengan kebiasaan yang tak normal.

IPHEDIA.com - Rekaman Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mendeteksi adanya erupsi dengan ketinggian kolom abu berwarna hitam mencapai 400 meter di atas puncak dan 738 meter di atas permukaan laut.

Kolom abu berwarna hitam tersebut condong ke arah utara. Pada Jumat, 21 Desember 2018 itu, Gunung Anak Krakatau berada pada status level II atau waspada. Sementara pada Sabtu, 22 Desember 2018 petang dan pukul 17.22 WIB, Gunung Anak Krakatau sudah terus-menerus menyemburkan material pijar dan ada getaran.

Dari pantauan aktivitas itu, BMKG telah merilis peringatan dini gelombang dini yang berlaku mulai 22 Desember 2018 pukul 07.00 WIB hingga tanggal 25 Desember 2018 pukul 07.00 WIB di wilayah perairan Selat Sunda dengan ketinggian 1,5 sampai 2,5 meter.

Erupsi yang masih terus terjadi memicu longsor lereng Gunung Anak Krakatau seluas 64 hektare, Sabtu, 22 Desember 2018 sekitar pukul 20.56 WIB. Longsoran itu sebenarnya tercatat pada seismograf BMKG yang berada di Cigeulis Pandeglang (CGJ) dan beberapa lainnya di wilayah Banten serta Lampung. Namun, terjadi kegagalan dalam sistem proses otomatis.

Gagalnya pendeteksian kegempaan lantaran sinyal getaran yang tercatat bukan tektonik. Tsunami yang melanda Selat Sunda adalah aktivitas vulkanik, sehingga sistem peringatan dini tsunami tidak mampu memprosesnya secara otomatis.

Sekitar 30 menit kemudian, atau pada 21.30 WIB, petugas Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG mendapat laporan kepanikan masyarakat di wilayah Provinsi Banten dan Lampung. Dikedua wilayah ini air laut mendadak pasang dengan kebiasaan yang tak normal.

Dalam pemeriksaan marigram Tide Gauge Badan Informasi Geospasial (BIG) BMKG, hasilnya terindikasi perubahan permukaan air laut di beberapa wilayah, seperti Pantai Jambu, Kabupaten Serang, dengan ketinggian 0,9 meter dan Pelabuhan Ciwandan, Banten, dengan ketinggian 0,35 meter.

Kemudian, di Provinsi Lampung perubahan permukaan air laut juga terjadi di wilayah Kotaagung, Tanggamus, dengan ketinggian 0,36 meter dan Pelabuhan Panjang, Bandarlampung, dengan ketinggian 0,28 meter.

Satu jam setelahnya, BMKG merilis keterangan terkait tsunami di Banten dan Lampung yang tidak dipicu oleh gempa bumi tektonik. Minggu, 23 Desember 2018, BMKG memastikan bahwa getaran terjadi di Gunung Anak Krakatau, 115.46 BT-6.10 LS, dengan kedalaman 1 kilometer (km) atau setara dengan kekuatan M 3,4. Bersambung ke Sejarah Krakatau dan Berpetualang Seru di Gunung Anak Krakatau (10). (Akhmad Sadad)

Baca: Sejarah Krakatau dan Berpetualang Seru di Gunung Anak Krakatau (10)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).

TOPIK

Back to Top