Sejarah Pembauran Rumpun Austronesia dan Melanesia

Secara klasik, manusia Indonesia dibagi menjadi dua kelompok, yaitu penutur Austronesia dan penutur Papua. Pengelompokan ini terutama didasarkan pada perbedaan bahasa dan kebudayaan selain ciri fisik.

IPHEDIA.com - Suku bangsa Austronesia merupakan berbagai suku bangsa di Asia, Oceania dan Afrika yang memakai bahasa-bahasa dari keluarga Austronesia. Mereka meliputi penduduk asli Taiwan yang kebanyakan kelompok etnisnya berada di Filipina, Malaysia, Timor Leste dan Indonesia.


Kemudian, suka bangsa ini juga ada di Brunei, Kepulauan Cocos (Keeling), Madagaskar, Mikronesia, dan Polinesia, serta suku Melayu di Singapura, suku bangsa Polinesia dari Selandia Baru dan Hawaii, dan non-orang Papua di Melanesia.

Selain itu, suku bangsa Austronesia juga ditemukan di kawasan Pattani di Thailand, kawasan Cham di Vietnam dan Kamboja, dan kawasan Hainan di Tiongkok, sebagian Sri Lanka dan selatan Myanmar.


Suku bangsa Austronesia juga teridentifikasi di ujung selatan Afrika Selatan, Suriname dan sebagian kecil Kepulauan Andaman. Kawasan yang diduduki oleh suku bangsa pemakai bahasa Austronesia secara kolektif dikenal sebagai Austronesia.

Kebanyakan orang Austronesia memiliki penampilan serupa, seperti kulit berwarna muda sampai coklat dengan rambut lurus, keriting atau bergelombang. Jika bahasa Jawa di Suriname dimasukkan, maka cakupan geografi juga mencakup daerah tersebut. Studi juga menunjukkan adanya masyarakat penutur bahasa Melayu di pesisir Sri Langka.

Beberapa peneliti menemukan bukti bahwa tanah air bangsa Austronesia purba berada pada benua Asia. (seperti Melton dkk., 1998), sedangkan yang lainnya mengikuti penelitian linguistik yang menyatakan bangsa Austronesia pada awalnya bermukim di Taiwan.

Meski demikian, beberapa peneliti beranggapan, dari sudut pandang ilmu sejarah bahasa, bangsa Austronesia berasal dari Taiwan. Karena pada pulau ini dapat ditemukan pembagian terdalam bahasa-bahasa Austronesia dari rumpun bahasa Formosa asli. Bahasa-bahasa Formosa membentuk sembilan dari sepuluh cabang pada rumpun bahasa Austronesia.

Rumpun Austronesia dan Melanesia di Indonesia

Secara klasik, manusia Indonesia dibagi menjadi dua kelompok, yaitu penutur Austronesia dan penutur Papua. Pengelompokan ini terutama didasarkan pada perbedaan bahasa dan kebudayaan selain ciri fisik. Namun, hasil penelitian terbaru, pembauran budaya dan genetika di antara dua penutur ini sejak perjumpaan ribuan tahun silam.

Rumpun bahasa Austronesia kemungkinan rumpun bahasa terbesar di dunia, dengan 1.200 bahasa dan rata-rata 270 juta penutur. Berdasarkan pada studi terbaru (Tryon, ed. 1994) rumpun bahasa Austronesia terdiri dari bahasa yang memiliki puluhan juta penutur (Bahasa Melayu/ Indonesia, bahasa Jawa, dan Tagalog) secara mengejutkan, dengan sejumlah besar bahasa dengan hanya ratusan penutur.

Bahasa tersebut dipakai hampir secara universal di Indonesia dan Filipina, di Singapura dan Malaysia, oleh penduduk pribumi di Taiwan, dan golongan kecil penduduk di Vietnam, Kamboja, dan busur Kepulauan Mergui di luar pesisir Birma (saat ini Myanmar). 


Lebih jauh ke timur, bahasa Austronesia dipakai hampir di seluruh Kepulauan Oseania dengan pengecualian pada daerah pedalaman dan kawasan pantai dari biduk Pulau Papua (Irian jaya dan Papua Nugini).

Pandangan lain berpendapat, rumpun Austronesia berbeda dengan Orang Melanesia. Bukan hanya ciri fisik, kebudayaan Melanesia juga khas, seperti tenun ikat, arsitektur, dan seni ukirnya. 


Istilah "melanesia" awalnya disematkan penjelajah Perancis, Jules Dumont d'Urville (1790-1842) tahun 1832 untuk menunjukkan populasi manusia yang mendiami ujung barat Lautan Pasifik. Secara lateral, kata ini berasal dari bahasa Yunani, Melano-nesos, 'nusa-hitam' atau 'kepulauan hitam', sehingga kerap dianggap sebagai sebuah klasifikasi yang rasial.

Awalnya, Melanesia lebih mengacu pada zona geografis. Belakangan kerap dipakai menyebut populasi. Gugus kepulauan itu saat ini berimpit dengan teritori sejumlah negara, yang lalu terhimpun dalam MSG; Indonesia menjadi anggotanya sejak pertengahan 2015. Secara sederhana, keberadaan "Melanesia" di Indonesia ada di kawasan timur.

Sebagaimana disebut Alfred Russel Wallace (1823-1913), Kepulauan Nusantara dibelah batas geografis yang membedakan flora, fauna, dan manusia. "Ras Melayu mendiami hampir seluruh bagian barat kepulauan itu, sedangkan ras Papua mendiami New Guinea (Papua) dan beberapa pulau di dekatnya...," sebut Wallace pada buku The Malay Archipelago (1869).

Selain sebutan kelompok Melayu, yang dinilai tidak tepat menggambarkan populasi manusia Indonesia di bagian barat, istilah "ras" sendiri belakangan tak dipakai lagi. Pakar genetika populasi asal Italia, Luigi Luca Cavalli-Sforza (2000), membuktikan bahwa membagi manusia dalam "ras" adalah usaha keliru. 


Secara biologis, hanya ada satu ras manusia modern, yaitu Homo sapiens, walaupun kemudian tiap populasi mengembangkan kebudayaan. Bahkan, ciri fisik berbeda sebagai adaptasi terhadap lingkungan yang berbeda.

Sementara itu, Ahli genetika dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Herawati Sudoyo, menolak pemisahan populasi manusia Indonesia di timur dan barat. 


Genetika manusia Indonesia adalah produk campuran dua atau lebih populasi moyang, walaupun presentasi genetika Austronesia lebih dominan di bagian barat Indonesia, sedangkan presentasi genetika Papua lebih tinggi di bagian timur Indonesia.

Menurut Herawati Sudoyo, studi genetika di lima provinsi Indonesia yang dianggap bagian dari Melanesia menunjukkan ada pembauran genetika. 


Jadi, Melanesia bukan sebuah entitas gen yang tunggal, demikian juga Austronesia. Bahkan, di Papua, yang selama ini dianggap wilayah yang dihuni hanya penutur Papua, ternyata secara genetika terjadi pencampuran, terutama di kawasan pesisir.

Disebutkan, motif genetika (haplotipe) DNA-mitokondria P dan Q dan haplotipe C-M208, C-M38, dan M-P14 dalam kromosom-Y yang jadi penanda keberadaan genetika Papua juga ditemui dalam persentase sangat tinggi di Pulau Alor.

Di sisi lain, arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Harry Truman Simanjuntak berpendapat, keberagaman manusia Indonesia dipengaruhi gelombang kedatangan dan jalur perjalanan yang berbeda walaupun asal-usulnya tetap satu, yaitu dari Afrika (out of Africa). 


Kapan manusia modern (Homo sapiens) keluar dari Afrika memang masih kontroversi. Ada versi terjadi 100.000 tahun lalu, ada yang mengatakan 70.000 tahun lalu.

Migran awal dari Afrika inilah yang lalu mencapai kawasan Indonesia sekitar 60.000 tahun silam. Mereka nenek moyang jauh sebagian masyarakat Indonesia di kawasan timur, yang sekarang sering disebut Melanesia ini. 


Bukti-bukti keberadaan migrasi awal manusia modern ini bisa ditemui di banyak situs di Jawa Timur (Song Terus, Braholo, dan Song Kepek), Sulawesi Selatan (Leang Burung dan Leang Sekpao), serta di sejumlah wilayah lain Nusantara.

Temuan lukisan tangan di Leang Timpuseng, Maros, berusia 40.000 tahun, dan yang tertua di dunia, juga berasosiasi dengan kelompok migran awal ini. 


Di akhir Zaman Es, sekitar 12.000 tahun lalu, menurut Truman, kembali terjadi gelombang migrasi manusia ke Kepulauan Nusantara akibat perubahan iklim. Mereka datang dari Asia daratan dan membuat diaspora ke berbagai arah, termasuk ke Nusantara.

Kelompok yang dikenal sebagai Austromelanesia atau Austroasiatik ini lalu mengembangkan hunian goa yang sebelumnya dilakukan manusia migran pertama dan melanjutkan tradisi berburu serta meramu. Gelombang migrasi berikutnya ke Nusantara adalah kedatangan populasi Austronesia (out of Taiwan) sekitar 4.000 tahun lalu.

Dari penelitian genetika, ternyata menunjukkan ada pembauran genetika melalui kawin-mawin penutur Austronesia dan Papua ini sejak fase-fase awal perjumpaan mereka, 4.000 tahun lalu. 


Dengan menganalisis DNA 2.740 individu dari 12 pulau, enam dari Indonesia barat dan selebihnya dari NTT (Sumba, Flores, Lembata, Alor, Pantar, dan Timor), Tumonggor (2013) menemukan pembauran intensif antara penutur Austronesia dan penutur Papua tersebut.

Jejak pembauran dalam genetika ini ternyata juga bisa dilihat dalam produk kebudayaan di antara dua penutur. Truman mencontohkan, tradisi menyirih dan menginang dari Austronesia yang membudaya di Papua. Sebaliknya, arsitektur rumah penutur Austronesia di Wae Rebo, Flores, menunjukkan peminjaman kebudayaan Papua.

Pembauran ini, kata ahli bahasa dari Universitas Indonesia, Multamia RMT Lauder, juga terlihat dalam penggunaan bahasa. Sekalipun secara garis besar ada dua rumpun bahasa di Indonesia, yaitu Austronesia dan Papua, keduanya menunjukkan ada saling meminjam kata, terutama di Indonesia timur. 


Di kawasan ini, penutur Austronesia banyak pinjam bahasa non-Austronesia. Demikian sebaliknya. Pertukaran terutama terkait angka dan cara berhitung yang menunjukkan adanya barter dan perdagangan.

Dari bukti-bukti genetik, kebudayaan, hingga bahasa memang menunjukkan evolusi pembauran manusia Nusantara sudah terjadi sejak ribuan tahun lalu, dan kian intensif sejak pembentukan Indonesia sebagai negara berdaulat tahun 1945. 


Jejak pembauran ini mestinya jadi bekal penting pembangunan ekonomi-politik Indonesia yang lebih adil dan merata, dari Provinsi Aceh hingga Papua, provinsi paling timur Indonesia. (as/rs)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).

TOPIK

Back to Top