Situs Adan-Adan, Candi Terbesar di Jawa Timur

Di situs ini ditemukan sejumlah benda bersejarah, seperti batuan fondasi candi, makara, sistem pertirtaan (pengairan) berupa (diduga) embung, pecahan keramik dan beberapa patung (arca) peninggalan era Kerajaan Kadiri dan Singosari.

Tim Arkenas sedang meneliti makara di Situs Adan- Adan. (Foto: Radar Kediri/Jawa Pos)

IPHEDIA.com - Situs Adan-Adan atau ada juga yang menyebutnya Situs Candi Gempur merupakan salah satu lokasi situs arkeologi yang terletak di Desa Adan-Adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur.

Di situs ini ditemukan sejumlah benda bersejarah, seperti batuan fondasi candi, makara, sistem pertirtaan (pengairan) berupa (diduga) embung, pecahan keramik dan beberapa patung (arca) peninggalan era Kerajaan Kadiri dan Singosari.

Sebelum ditemukan, kuat dugaan situs ini tertimbun lapisan abu vulkanik setebal 11 lapisan dari Gunung Kelud. Hal itu karena temuan situs ini berada di sekitar pemukiman penduduk yang juga berdekatan dengan kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Serinjing yang menjadi daerah aliran lahar dingin Gunung Kelud. 

situs tersebut diperkirakan dibangun pada Abad ke-11, meskipun wilayah Kediri dan sekitarnya memang sudah menjadi pusat kebudayaan sejak era Mpu Sindok pada Abad ke-9. Bahkan, ada sumber yang menyebut situs ini memiliki usia sama dengan era Kerajaan Mataram Kuno.

Situs Candi Adan-Adan merupakan candi yang memiliki latar belakang keagamaan Budha (Aliran Mahayana), dengan perkiraan ukuran candi induk 25 x 25 meter dan luas situs diperkirakan mencapai kurang lebih 700 meter persegi, sehingga merupakan candi Budha terbesar di Jawa Timur.

Tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) yang bertanggung jawab atas temuan situs ini dalam penggalian yang dilakukan tahun 2016 dan 2017 menemukan struktur bangunan candi dari bahan batu bata dengan sudut berukuran 8 X 8 meter.

Dari penelitian tim, situs ini dibangun pada Abad ke-11 meskipun wilayah Kediri dan sekitarnya memang sudah menjadi pusat kebudayaan sejak era Mpu Sindok pada Abad ke-9. Bahkan, ada sumber yang menyebut situs ini memiliki usia sama dengan era Kerajaan Mataram Kuno.

Ketika dilakukan penggalian kembali pada 1-15 Juli 2019, beberapa peneliti menemukan sejumlah temuan menarik, antara lain fragmen Arca Dhyanibuddha Amitabha, fragmen lapik arca, dan kepala Arca Bodhisatva. Temuan tersebut menandakan bahwa peninggalan Situs Adan-adan ini termasuk peninggalan Buddha Mahayana.

Selain di Desa Adan-Adan, temuan serupa juga ditemukan di Desa Wonorejo, Semanding, Kecamatan Pagu, Kediri. Temuan batuan di Desa Wonorejo sendiri dianggap tidak lazim karena bentuk batuan yang ditemukan berupa oktagonal (segi delapan). (*)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

Back to Top