Wisata Alam Goa Putri dengan Legenda Si Pahit Lidah dan Putri Dayang Merindu

Ketika masuk ke kawasan Gua Putri, pengunjung akan melihat papan besar yang bertuliskan sekilas cerita atau legenda asal-usul Gua Putri. Legenda itu menceritakan seorang putri yang memiliki paras cantik dikenal dengan sebutan Putri Dayang Merindu.


 

IPHEDIA.com - Destinasi wisata alam Gua Putri, salah satu objek wisata alam kebanggaan warga Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Provinsi Sumatera Selatan ini, terletak di Desa Padang Bindu, Kecamatan Semidang Aji. Selain terlihat indah dan mempesona juga meninggalkan legenda cerita rakyat yang dikenal hingga kini.

Menuju ke objek wisata Gua Putri dari pusat Kota Baturaja, sekitar 45 menit menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat. Untuk masuk ke dalam objek wisata alam bersejarah ini juga tidak mahal.

Goa Putri memiliki panjang 150 meter dan lebar 8-20 meter. Masuk ke dalamnya, pengunjung akan melihat keindahan stalagtit dan stalagmit. Tampilan semakin indah ketika dinding-dinding gua mendapat pantulan cahaya berwarna-warni. Bentuk stalagtit dan stalagmit di sini beragam, ada yang besar memanjang seperti kubah, ada pula yang menggantung.

Suara aliran Sungai Semuhun di dalamnya seakan menjadi terapi alam yang menghadiahkan ketenangan pada para pengunjung. Sungai ini bersumber dari kawasan hutan rimba yang mengalir masuk dari bagian belakang goa.

Di dalam gua aliran sungai semuhin diceritakan tempat Putri Dayang Merindu mandi. Aliran sungai itu dipercaya bisa bikin awet muda saat pengunjung mencuci muka di sana.

Gua yang Terkenal dengan Legenda Si Pahit Lidah dan Putri Dayang Merindu

Ketika masuk ke kawasan Gua Putri, pengunjung akan melihat papan besar yang bertuliskan sekilas cerita atau legenda asal-usul Gua Putri. Legenda itu menceritakan seorang putri yang memiliki paras cantik dikenal dengan sebutan Putri Dayang Merindu.

Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, Putri Dayang Merindu pernah tinggal bersama keluarganya di dalam gua ini. Dalam legendanya, Putri Dayang Merindu dikenal pendiam dan membisu, bak sebuah arca batu.

Pada suatu hari ketika sang putri sedang mandi di muara Sungai Semuhun, lewatlah seorang pengembara yang ternyata diketahui bernama Serunting Sakti atau lebih dikenal dengan sebutan Si Pahit Lidah.

Di tempat itu, Si Pahit Lidah terpesona dengan keelokan rupa Putri Dayang Merindu yang tengah mandi. Si Pahit Lidah menyapa, namun sayangnya sapaannya tidak mendapat perhatian sama sekali sehingga dia merasa gusar.

Kemudian terlontar ucapan “sombong sekali putri ini diam seperti batu”. Usai Si Pahit Lidah melontarkan kata-kata menggerutunya, saat itulah tubuh sang putri dengan sekejap berubah menjadi batu.

Kemudian, sang pengembara kembali meneruskan perjalanannya dan sampailah dia memasuki desa tersebut. Karena keadaan desa yang sepi ditinggal penduduknya yang tengah bekerja di ladang, sang pengembara kembali berkata. “Sepi sekali desa ini seperti desa gua batu.” Usai bergumam tiba-tiba desa tersebut berubah menjadi gua batu. Demikian legenda. (as/ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).

TOPIK

Back to Top