Sejarah Krakatau dan Berpetualang Seru di Gunung Anak Krakatau (5)

Sang penulis, Muhammad Saleh, mengaku jika ia menulis syair Lampung Karam di Kampung Bangkahulu, Singapura. Ia menyebut berada di Tanjungkarang ketika letusan Krakatau terjadi dan menyaksikan akibat bencana alam yang hebat itu dengan mata kepalanya sendiri.

IPHEDIA.com - Pada tulisan sebelumnya, meletusnya Gunung Krakatau sempat tercatat dalam Syair Lampung Karam yang ditulis oleh Muhammad Saleh, seorang yang kemungkinan asli Lampung dan mengungsi ke Singapura. Kitab syair itu terbit pada 1888, dan menceritakan secara dramatis soal kengerian dan keadaan kacau balau ketika Krakatau meletus.

Bisa dikatakan, kitab ini menceritakan letusan Krakatau satu-satunya dari perspektif pribumi sendiri. Catatannya ini menjadi kesaksian yang sangat langka dan menarik, tiga bulan pasca meletusnya Krakatau, melalui Syair Lampung Karam.

Selama ini yang menjadi bacaan tentang letusan Gunung Krakatau adalah laporan penelitian lengkap GJ Symons dkk, The Eruption of Krakatoa and Subsequent Phenomena: Report of the Krakatoa Committee of the Royal Society (London, 1883).

Sedangkan, sumber tertulis pribumi, terbit di Singapura dalam bentuk cetak batu (litography) tahun 1883/1884. Kolofonnya mencatat 1301 H (November 1883-Oktober 1884). Edisi pertama ini berjudul Syair Negeri Lampung yang Dinaiki oleh Air dan Hujan Abu (42 halaman).

Tak lama berselang muncul edisi kedua. Syair ini dengan judul Inilah Syair Lampung Dinaiki Air Laut (42 halaman). Edisi kedua ini juga diterbitkan di Singapura pada 2 Safar 1302 H (21 November 1884).

Kemudian, edisi ketiga berjudul Syair Lampung dan Anyer dan Tanjung Karang Naik Air Laut (49 halaman), yang diterbitkan oleh Haji Said. Edisi ketiga ini juga diterbitkan di Singapura, bertarikh 27 Rabiulawal 1301 H (3 Januari 1886).

Dalam beberapa iklan, edisi ketiga ini disebut Syair Negeri Anyer Tenggelam. Sedangkan, edisi keempat syair ini berjudul Inilah Syair Lampung Karam Adanya (36 halaman), diterbitkan di Singapura, bertarikh 10 Safat 1306 H (16 Oktober 1888).

Khusus teks keempat edisi syair itu ditulis dalam bahasa Melayu dan memakai aksara Arab Melayu (Jawi). Dari perbandingan teks yang ia lakukan, terdapat variasi yang cukup signifikan antara masing-masing edisi. Ini mengindikasikan pengaruh kelisanan yang masih kuat dalam tradisi keberaksaraan yang mulai tumbuh di Nusantara pada paroh kedua abad ke-19.

Peneliti berhasil mengidentifikasi tempat penyimpanan eksemplar seluruh edisi Syair Lampung Karam yang masih ada di dunia sampai saat ini menyebutkan, Syair Lampung Karam ditulis Muhammad Saleh.

Sang penulis, Muhammad Saleh, mengaku jika ia menulis syair Lampung Karam di Kampung Bangkahulu (kemudian bernama Bencoolen Street) di Singapura. Ia menyebut berada di Tanjungkarang (Kota Bandarlampung, Lampung sekarang) ketika letusan Krakatau terjadi dan menyaksikan akibat bencana alam yang hebat itu dengan mata kepalanya sendiri.

Sangat mungkin si penulis syair ini seorang korban letusan Krakatau yang pergi mengungsi ke Singapura, dan membawa kenangan menakutkan tentang bencana alam yang maha dahsyat itu. Bersambung ke Sejarah Krakatau dan Berpetualang Seru di Gunung Anak Krakatau (6). (Akhmad Sadad)

Baca: Sejarah Krakatau dan Berpetualang Seru di Gunung Anak Krakatau (6)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).

TOPIK

Back to Top