Menara Siger, Ikon Lampung Penanda Titik Nol Pulau Sumatera (2)

Pembangunan Menara Siger dimaksudkan akan menumbuhkan daya tarik dan magnet bagi setiap orang, termasuk daya tarik investasi. Secara fisik, menara tersebut dibangun dengan memperhatikan ciri khas Lampung.

IPHEDIA.com - Menara Siger bangunan kebanggaan masyarakat Provinsi Lampung karena mempunyai arsitektur tradisional khas Lampung. 


Menara yang dibangun perpaduan antara land mark dan pariwisata ini, berada di atas bukit dengan ketinggian 110 meter di atas permukaan laut yang pembangunannya dimulai sejak tahun 2005.

Pembangunan Menara Siger dimaksudkan akan menumbuhkan daya tarik dan magnet bagi setiap orang, termasuk daya tarik investasi. 


Secara fisik, menara tersebut dibangun dengan memperhatikan ciri khas Lampung. Di sekitar tugu dibangun ruang-ruang yang menampilkan budaya Lampung serta sarana-prasarana pariwisata.

Sebagai tugu di ujung Pulau Sumatera, Menara Siger dilengkapi dengan tulisan penanda Titik Nol Pulau Sumatera. Menara Siger dengan warna kuning emas itu dilengkapi ruangan tempat wisatawan melihat Pelabuhan Bakauheni serta keindahan panorama laut dan alam sekitarnya.

Siger adalah topi adat pengantin wanita Lampung. Menara Siger, berupa bangunan berbentuk mahkota, terdiri dari sembilan rangkaian yang melambangkan sembilan macam bahasa di Lampung. 


Menara Siger berwarna kuning dan merah, mewakili warna emas dari topi adat pengantin wanita. Bangunan ini juga berhiaskan ukiran corak kain tapis khas Lampung.

Di dalam bangunan menara berisi data asta gatra, yaitu trigatra mencakup letak geografis, demografis dan kekayaan sumber daya alam (SDA). Berikutnya panca gatra, yaitu berisi Ideologi dan Hankam. Dengan demikian para turis tidak perlu banyak bertanya.

Payung tiga warna (putih-kuning-merah) menandai puncak menara. Payung ini sebagai simbol tatanan sosial. Dalam bangunan utama Menara Siger terdapat Prasasti Kayu Are sebagai simbol pohon kehidupan.

Menara Siger tidak hanya berbentuk sebuah fisik bagunan, tetapi mencerminkan budaya masyarakat dan identitas masyarakat Lampung sesuai dengan filosofi berpikir dan bertindak sesuai visi dan misi mewujudkan Lampung yang unggul dan berdaya saing. Bersambung ke Episode 3: Sejarah Krakatau dan Berpetualang Seru di Gunung Anak Krakatau (1). (Akhmad Sadad)


Baca: Sejarah Krakatau dan Bertualang Seru di Gunung Anak Krakatau (1)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).

TOPIK

Back to Top