Sejarah Penemuan dan Kondisi Kompleks Candi Muara Takus

 
Di dalam Kompleks Candi Muara Takus dijumpai empat candi, yaitu Stupa Mahligai, Stupa Bungsu, Stupa Tua dan Stupa Palangka.



IPHEDIA.com - Candi Muara Takus merupakan bangunan terbesar di Pulau Sumatera berbentuk stupa. Kompleks stupa tersebut dikelilingi tembok.

Kompleks Candi Muara Takus berada di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Indonesia.

Di dalam Kompleks Candi Muara Takus dijumpai empat candi, yaitu Stupa Mahligai, Stupa Bungsu, Stupa Tua dan Stupa Palangka.

Stupa Muara Takus, seperti melansir Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), mengutip Indephedia.com, merupakan bangunan suci agama Buddha. 

Ada yang berpendapat bangunan tersebut peninggalan agama Buddha yang datang dari India, karena bentuknya mirip dengan Candi Asoka di India.

Penemuan dan penelitian dilakukan terhadap Candi Muara Takus. Pada 1860 Kompleks Candi Muara Takus ditemukan kembali oleh Cornets de Groot. 

Publikasinya menarik perhatian van Beest Holle, yang memberi gambaran tentang Muara Takus, dan Schnitger memberi gambaran lingkungan Muara Takus dan kompleks stupanya.

Groeneveldt melakukan penelitian pada 1880. Penelitiannya diteruskan oleh Verbeek dan van Delden. Kedua ahli itulah yang menemukan pagar keliling kompleks Candi. 

Ijzerman pada 1889, berkunjung dan melakukan penggambaran, pengukuran bangunan stupa di Muara Takus. Hasilnya diketahui Kompleks Candi Muara Takus dikelilingi pagar batu. 

Pada 1935, Schnitger melakukan penelitian di Kompleks Stupa Muara Takus. Ia melakukan ekskavasi di reruntuhan pintu gerbang, Bangunan 1, Bangunan 2, dan Stupa Tua. 

Di antara reruntuhan Stupa Bungsu ditemukan satu bata berbentuk bunga teratai. Di dalamnya ada abu dan lempengan emas dengan gambar trisula dan tulisan Aksara Nagari.

Schnitger untuk kali pertama melaporkan adanya tanggul tanah pada 1935, tidak disebutkan berapa panjang tanggul itu. 

Mungkin, saat itu hutannya sangat lebat sehingga pengukuran panjang tanggul sulit dilakukan. 

Baru pada 1973 panjang tanggul dapat diketahui oleh tim kerjasama LPPN dan the Univesity of Pennsylvania Museum. 

Dengan bantuan foto udara, penelitian oleh tim Ditlinbinjarah dengan Bakosurtanal dan Fakultas Geografi Univesitas Gajah Mada berhasil mengetahui ukuran rinci tanggul tanah itu. 

Tanggul tanah panjangnya 4,19 km dengan tinggi sekitar 0,50 meter hingga 6,00 meter. Tanggul tanah di Muara Takus berada di sepanjang sisi timurlaut (membujur arah tenggara-baratlaut).

Di sepanjang sisi selatan (membujur arah barat timur) meander Sungai Kampar Kanan. Tanggul tanah itu mengikuti tepian Sungai Kampar Kanan. 

Tanggul tanah membujur ke arah baratlaut-tenggara sepanjang 510 meter di sisi timurlaut. Di sisi tenggara tanggul tanah membujur ke arah baratdaya-timurlaut sepanjang lebih dari 510 meter. 

Di luar tanggul tanah ada semacam parit mengelilingi tanggul. Parit dan tanggul semacam ini banyak ditemukan di benteng tanah di Sumatera. Ukuran parit 10-20 meter, dalam dua meter. 

Kompleks Candi Muara Takus dikelilingi tembok ukuran 74 x 74 meter di sisi barat daya tanggul tanah dan sisi timur laut Sungai Kampar Kanan. Tembok keliling seluruhnya dari bata.

Meski sebagian besar bangunan candi terdiri dari batu bata, bahan bangunan candi ada juga dari batu pasir dan batu sungai.

Melansir Disparbud.kamparkab, bangunan utama di kompleks ini adalah sebuah stupa yang besar, berbentuk menara yang sebagian besar terbuat dari batu bata dan sebagian kecil batu pasir kuning.

Di dalam situs Candi Muara Takus ini, selain terdapat bangunan candi yang disebut dengan Candi Tua, Candi Bungsu, Stupa Mahligai serta Palangka, ditemukan juga gundukan yang diperkirakan sebagai tempat pembakaran tulang manusia. 

Sementara di luar situs terdapat pula bangunan-bangunan (bekas) yang terbuat dari batu bata, yang belum dapat dipastikan jenis bangunannya.

Candi Mahligai – Candi Mahligai atau Stupa Mahligai, merupakan bangunan candi yang dianggap paling utuh. Bangunan ini terbagi atas tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan atap. 

Stupa ini memiliki fondasi berdenah persegi panjang dan berukuran 9,44 m x 10,6 m, serta memiliki 28 sisi yang mengelilingi alas candi dengan pintu masuk berada di sebelah Selatan. 

Dahulu, bagian puncak menara terdapat batu dengan lukisan daun oval dan relief-relief sekelilingnya. 

Bangunan ini diduga mengalami dua tahap pembangunan. Dugaan in didasarkan pada kenyataan bahwa di dalam kaki bangunan yang sekarang terdapat profil kaki bangunan lama sebelum bangunan diperbesar.

Candi Tua – Candi Tua atau Candi Sulung merupakan bangunan terbesar di antara bangunan lainnya di dalam situs Candi Muara Takus. 

Bangunan ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan atap. Bagian kaki terbagi dua. Ukuran kaki pertama tingginya 2,37 m sedangkan yang kedua mempunyai ketinggian 1,98 m. 

Tangga masuk terdapat di sisi Barat dan sisi Timur yang didekorasi dengan arca singa. Lebar masing-masing tangga 3,08 m dan 4 m. 

Dilihat dari sisa bangunan bagian dasar mempunyai bentuk lingkaran dengan garis tengah ± 7 m dan tinggi 2,50 m. 

Ukuran fondasi bangunan candi ini adalah 31,65 m x 20,20 m. Fondasi candi memiliki 36 sisi yang mengelilingi bagian dasar. Bagian atas dari bangunan ini adalah bundaran. 

Tidak ada ruang kosong sama sekali di bagian dalam Candi Sulung. Bangunan terbuat dari susunan bata dengan tambahan batu pasir. 

Batu pasir hanya digunakan untuk membuat sudut-sudut bangunan, pilaster-pilaster, dan pelipit-pelipit pembatas perbingkaian bawah kaki candi dengan tubuh kaki serta pembatas tubuh kaki dengan perbingkaian atas kaki. 

Berdasarkan penelitian tahun 1983 diketahui bahwa candi ini paling tidak telah mengalami dua tahap pembangunan. 

Indikasi mengenai hal ini dapat dilihat dari adanya profil bangunan yang tertutup oleh dinding lain yang bentuk profilnya berbeda.

Candi Bungsu – Candi Bungsu bentuknya tidak jauh beda dengan Candi Sulung. Hanya saja pada bagian atas berbentuk segi empat. 

Candi Bungsu berdiri di sebelah barat Candi Mahligai dengan ukuran 13,20 x 16,20 meter. Di sebelah timur terdapat stupa-stupa kecil serta terdapat sebuah tangga yang terbuat dari batu putih. 

Bagian fondasi bangunan memiliki 20 sisi, dengan sebuah bidang di atasnya. Pada bidang tersebut terdapat teratai. 

Dalam tanah tersebut didapatkan tiga keping potongan emas dan satu keping lagi terdapat di dasar lubang, yang digores dengan gambar-gambar tricula dan tiga huruf Nagari. 

Di bawah lubang, ditemukan sepotong batu persegi yang pada sisi bawahnya ternyata digores dengan gambar tricula dan sembilan buah huruf. 

Bangunan ini dibagi menjadi dua bagian menurut jenis bahan yang digunakan. Kurang lebih separuh bangunan bagian Utara terbuat dari batu pasir, sedangkan separuh bangunan bagian selatan terbuat dari bata. 

Batas antara kedua bagian tersebut mengikuti bentuk profil bangunan yang terbuat dari batu pasir. 

Hal ini menunjukkan bahwa bagian bangunan yang terbuat dari batu pasir telah selesai dibangun kemudian ditambahkan bagian bangunan yang terbuat dari bata.

Candi Palangka – Bangunan candi ini terletak di sisi timur Stupa Mahligai dengan ukuran tubuh candi 5,10 m x 5,7 m dengan tinggi sekitar dua meter. 

Candi ini terbuat dari batu bata, dan memiliki pintu masuk yang menghadap ke arah utara. (SJ/IND)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

Back to Top