Profil Daerah dan Pemerintahan Kabupaten Lampung Tengah

 
Kantor Bupati Kabupaten Lampung Tengah

IPHEDIA.com - Kabupaten Lampung Tengah (Lamteng) merupakan kabupaten di Provinsi Lampung dengan ibu kota terletak di Gunung Sugih. Kabupaten yang terletak sekitar 57,85 kilometer dari Kota Bandar Lampung ini memiliki luas wilayah 4.789,82 km², salah satu kabupaten yang terkurung daratan (land lock) di Provinsi Lampung.

Sebelum dimekarkan menjadi tiga kabupaten/kota, Kabupaten Lampung Tengah terluas kedua di Lampung, sampai dengan diundangkannya Undang-undang Nomor 12 tahun 1999 yang memecah kabupaten ini menjadi beberapa daerah lain, sehingga luasnya menjadi lebih kecil. Kabupaten Lampung Tengah dulunya meliputi Kabupaten Lampung Tengah, Kabupaten Lampung Timur, dan Kota Metro.

Sebelum tahun 1999, ibu kota Lampung Tengah terletak di Metro yang dimekarkan menjadi kota otonom sendiri. Setelah tahun 1999 pusat pemerintahan Lampung Tengah dipindahkan ke Gunung Sugih.

Sejarah Penduduk

Penduduk suku asli di Kabupaten Lampung Tengah adalah suku Lampung Pepadun, di angkat dari adat kemargaan “Abung Siwo Mego” dan “Pubian Telu Suku”, yaitu kebuaian atau jurai yang berasal dari 9 (sebilan) keturunan. Kesembilan jurai (bahasa daerah= jurai siwo) itu, terdiri dari Anak Tuha, Nuban, Nunyai, Unyi, Subing, Kunang, Selagai, Nyerupa dan Beliuk.

Sembilan kebuaian penduduk asli ini, di lingkungan setempat masing-masing mendiami sejumlah tempat di Kabupaten Lampung Tengah. Hal itu dengan ditandai adanya perkampungan masyarakat pribumi, bahasa daerah sehari-hari yang dipergunakan serta budaya daerah penduduk suku asli yang turun temurun bermukim di sini.

Saat ini, selain suku Lampung, suku-suku dan asal penduduk di Lampung Tengah sudah beragam, ada suku Jawa, Bali, Sunda, Bugis, Padang, Batak, Palembang dan lainnya. Kedatangan warga pendatang ini awalnya dari perpindahan penduduk antar pulau yang disebut kolonisasi semasa kolonial Hindia Belanda, mengikuti transmigrasi ketika masa Orde Baru hingga datangan lainnya.  

Selama dalam tahun 1952 sampai dengan 1970 pada objek-objek transmigrasi daerah Lampung telah ditempatkan sebanyak 53.607 KK, dengan jumlah sebanyak 222.181 jiwa, tersebar pada 24 objek dan terdiri dari 13 jenis/kategori transmigrasi.

Untuk Kabupaten Lampung Tengah saja antara tahun itu terdiri dari 4 objek, dengan jatah penempatan sebanyak 6.189 KK atau sebanyak 26.538 jiwa. Kampung paling dominan di Kabupaten Lampung Tengah dihuni oleh masyarakat suku Jawa. Agama yang dianut mayoritas Islam dan sebagian lagi agama Kristen Katolik, Kristen Protestan, Budha dan Hindu.

Selain suku Jawa, di Kabupaten Lampung Tengah terdapat masyarakat suku Sunda, tetapi jumlahnya tak sebanyak suku Jawa. Mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Mereka juga awalnya adalah transmigran yang ditempatkan di beberapa kecamatan dalam wilayah Kabupaten Lampung Tengah.

Masyarakat dominan lain yang bermukim di Lampung Tengah adalah penduduk suku Bali. Sebagian besar mendiami di beberapa kecamatan di wilayah timur dan sisanya berada di kecamatan lain di Lampung Tengah. Agama yang di anut mayoritas memeluk agama Hindu-Bali.

Kampung-kampung Bali akan terasa bila saat berada di lingkungan setempat. Sama halnya dengan masyarakat suku Jawa dan Sunda, masyarakat suku Bali bermula dari transmigran yang ditempatkan di daerah ini. Penempatan itu terdiri dari beberapa tahapan. Sehari-harinya, penduduk setempat menuturkan bahasa Bali.

Pembagian Administratif

Pada masa Orde Baru, pada mulanya daerah asli Kabupaten Lampung Tengah meliputi 1 (satu) kota administratif, 2 (dua) lembaga pembantu bupati, 24 kecamatan, dan 504 desa/kelurahan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 46 Tahun 1999 dibentuklah Kecamatan Terusan Nunyai yang sebelumnya merupakan wilayah Kecamatan Terbanggi Besar.

Sebulan kemudian, berdasarkan UU RI Nomor 12 Tahun 1999, pada wilayah kabupaten Lampung Tengah diadakan pemekaran, sehingga wilayah yang semula memiliki luas 9.189,50 km² dan sekarang luasnya tinggal sekitar 4.789,82 km².

Pemekaran pertama adalah Kabupaten Lampung Timur, sehingga kabupaten ini berkurang 10 kecamatan, yakni Sukadana, Metro Kibang, Pekalongan, Way Jepara, Labuhan Meringgai, Batanghari, Sekampung, Jabung, Purbolinggo, dan Raman Utara.

Pemekaran kedua dengan terbentuknya Kota Madya Metro yang dulunya dikenal sebaga ibu kota Kabupaten Lampung Tengah yang memiliki status sebagai Kota Administratif dan pada tahun 1999 statusnya ditingkatkan sebagai Kotamadya. Sehingga wilayah Lampung Tengah kembali mengalami pengurangan 2 kecamatan, yaitu Metro Raya dan Bantul.

Setelah dikurangi 2 kecamatan, Lampung Tengah dalam kurun waktu 1999-2001 hanya memiliki 13 kecamatan, yaitu Gunung Sugih (sebagai ibu kota baru kabupaten), Terbanggi Besar, Seputih Mataram, Punggur, Seputih Raman, Seputih Banyak, Rumbia, Seputih Surabaya, Trimurjo, Padang Ratu, Bangun Rejo, Kali Rejo dan Terusan Nunyai.

Pada tahun 2001 berdasarkan Perda Kabupaten Lampung Tengah No. 10 Tahun 2001, diadakan pemekaran kecamatan sehingga bertambah 13 kecamatan baru, yakni Bumi Ratu Nuban, Bekri, Seputih Agung, Way Pengubuan, Bandar Mataram, Pubian, Selagai Lingga, Anak Tuha, Sendang Agung, Kota Gajah, Bumi Nabung, Way Seputih dan Bandar Surabaya.

Selanjutnya, berdasarkan Perda Kabupaten Lampung Tengah No. 6 Tahun 2005 dibentuk Kecamatan Anak Ratu Aji dan pemekaran kecamatan terakhir, yaitu Kecamatan Putra Rumbia berdasarkan Perda Kabupaten Lampung Tengah No. 15 Tahun 2006. Sekarang, total kecamatan di Kabupaten Lampung Tengah sebanyak 28 kecamatan.

Bupati Lampung Tengah

Sejak mulai terbentuk menjadi kabupaten, dimekarkan hingga sampai saat ini, Kabupaten Lampung Tengah dipimpin oleh sejumlah bupati. Adapun nama-nama Bupati Lamteng, antara lain Burhanuddin Amin (1945–1948), Zainabun Djajanegara (1948–1952), R Syahri Djajoyoabdinegoro (1952–1957), Syamsudin V. Djajamarga (1958–1959), Mohfian Hasanuddin Carepeboka (1959–1960) dan Hasan Basri Darmawijaya (1961–1967).

Kemudian, R. A. Oemar Kadir (1967–1972), Zainal Arifin Waluyo (1972–1973), S Prawinegara (1973–1978), R Soekirno (1978–1985), (Plh) Subekti Jayanegara (1985–1985), Suwardi Ramli (1985–1995), Herman Sanusi (1995–2000), Andy Achmad Sampurna Jaya (2000–2009), A. Pairin (2009–2015), Mustafa (2015–2018), Loekman Djoyosoemarto (2018–2021) dan Musa Ahmad--Ardito Wijaya (2021-2026). (as/ip)

Sumber: Bappeda Lampung Tengah, Wikipedia dan sumber lainnya yang relevan.
Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

Back to Top