Puluhan Tewas Saat Gerilyawan Menyerang Konvoi Sipil yang Dikawal Polisi Militer di Burkina Faso

Presiden Roch Kabore memerintahkan tiga hari berkabung nasional setelah serangan di jalan antara Gorgadji dan Arbinda, salah satu zona paling bergejolak di Burkina Faso.

Foto: Reuters

BURKINA FASO, IPHEDIA.com - Puluhan orang tewas di Burkina Faso utara pada Rabu waktu setempat ketika gerilyawan Islam menyerbu konvoi sipil yang dikawal oleh polisi militer, peristiwa yang terbaru dalam serentetan serangan di wilayah Sahel Afrika Barat bulan ini.

Presiden Roch Kabore memerintahkan tiga hari berkabung nasional setelah serangan di jalan antara Gorgadji dan Arbinda, salah satu zona paling bergejolak di Burkina Faso.

Tiga puluh warga sipil, 14 polisi militer dan tiga milisi pro-pemerintah tewas, sementara 30 orang terluka, kata pemerintah dalam sebuah pernyataan melansir Reuters. Ia menambahkan bahwa 58 gerilyawan tewas dalam bentrokan berikutnya dengan pasukan keamanan.

Militan yang terkait dengan Al Qaeda dan Negara Islam secara teratur melakukan serangan di Burkina Faso dan negara tetangga Mali dan Niger, menewaskan ratusan warga sipil tahun ini saja.

Kekerasan di Sahel, daerah semi-kering di bawah Gurun Sahara, terus meningkat meskipun kehadiran ribuan pasukan PBB, regional dan Barat dan upaya oleh beberapa pemerintah untuk bernegosiasi dengan militan.

Orang-orang bersenjata membunuh sedikitnya 12 tentara pekan lalu di barat laut Burkina Faso serta 30 warga sipil, tentara dan milisi pro-pemerintah beberapa hari sebelumnya. Di Niger, orang-orang bersenjata pada hari Senin menewaskan 37 warga sipil, termasuk 14 anak-anak, dalam serangan di sebuah desa. 

Kekerasan itu terjadi saat bekas kekuatan kolonial Prancis bersiap untuk mulai menarik pasukannya di Sahel dari 5.000 menjadi sekitar 2.500-3.000. Sahel berada dalam kekacauan oleh pengambilalihan pada tahun 2012 di Mali utara oleh militan yang terkait dengan al Qaeda.

Prancis melakukan intervensi pada tahun berikutnya untuk mendorong mereka kembali. Tetapi mereka telah berkumpul kembali dan memperluas operasi mereka, dan mereka sekarang mengancam negara-negara pesisir Afrika Barat seperti Benin dan Pantai Gading. (rts/ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK


Back to Top