Penyelundupan 458 Ekor Burung Digagalkan KSKP Wilayah Bakauheni

Sebanyak 458 ekor burung asal Waytuba, Kabupaten Waykanan, Provinsi Lampung, yang akan dikirim ke Jatibening, Pondokgede, Bekasi, Provinsi Jawa Barat, digagalkan KSKP Wilayah Bakauheni saat pemeriksaan di pintu masuk Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan.




BAKAUHENI, IPHEDIA.com - Untuk kesekian kalinya penyelundupan burung dari Pulau Sumatera ke Jawa yang tidak memiliki dokumen persyaratan untuk melalulintaskan hewan kembali digagalkan Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Wilayah Bakauheni.

Kali ini, sebanyak 458 ekor burung asal Waytuba, Kabupaten Waykanan, Provinsi Lampung, yang rencananya akan dikirim ke Jatibening, Pondokgede, Bekasi, Provinsi Jawa Barat, digagalkan KSKP Wilayah Bakauheni saat pemeriksaan di pintu masuk Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan, pada Selasa malam.

"Tadi malam kami berhasil menggagalkan penyeludupan 458 ekor burung di dari Waytuba dan mau dikirim ke Jatibening. Burung-burung itu telah kami serahkan ke Balai Karantina Pertanian Wilayah kerja Bakauheni untuk selanjutnya dilakukan pelepasan," kata Kepala KSKP Bakauheni, AKP Ridho Rafika, Rabu.

Pejabat Karantina Pertanian Lampung Wilayah Bakauheni, Jahoras Sianturi menyebutkan, ratusan ekor burung yang diangkut menggunakan bus antarprovinsi itu tidak dilengkapi dokumen persyaratan dan tidak dilaporkan kepada pejabat karantina untuk dilakukan tindakan karantina. "Secara aturan, pemilik sudah melakukan pelanggaran peraturan perkarantinaan," ujar Jahoras Sianturi

Burung-burung yang hendak diselundupkan tersebut dikemas dalam 19 keranjang plastik, masing-masing sebanyak 13 keranjang berisi burung Prenjak 325 ekor, 5 keranjang berisi burung pleci 125 ekor dan 1 kardus kecil berisi burung konin 8 ekor.

Sementara, Kepala Karantina Pertanian Lampung, Muh Jumadh mengatakan, terhadap para pelaku penyelundupan satwa tersebut berpotensi melanggar UU No. 21 Tahun 2019 Tentang Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan pada pasal 88 huruf (a) dan (c) dengan ancaman pidana pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan pidana denda paling banyak Rp2 miliar.

Dia menyebut, Karantina Pertanian Lampung dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir telah berhasil melakukan penyidikan kasus serupa hingga proses P21. Dalam upaya menjaga kelestarian sumberdaya alam hayati, pihaknya akan terus memperketat pengawasan terhadap peredaran satwa.

Untuk itu, jelas dia, kerjasama ke semua pihak pun akan terus ditingkatkan dari mulai unsur masyarakat hingga instansi terkait lainya. "Semoga upaya bersama dalam menjaga kelestarian sumberdaya alam negeri ini dapat berdampak positif dengan semakin menurunnya kasus penyelundupan satwa," terang Muh Jumadh. (*)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK


Back to Top