Kunjungi P3UW Rawajitu Timur, Menteri KKP: Solusinya Harus Revitalisasi

"Solusinya harus revitalisasi, tidak ada cara lain. Kalau revitalisasi mau, dengan metode dan manajemen baru. Kalau perlu manajemennya paguyuban," ujar Menteri KKP, Sakti Wahyu Trenggono.



TULANGBAWANG, IPHEDIA.com - Untuk terus meningkatkan produktivitas tambak udang Bumi Dipasena, Kabupaten Tulangbawang, Provinsi Lampung, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, revitalisasi menjadi solusi komprehensif. 

"Solusinya harus revitalisasi, tidak ada cara lain. Kalau revitalisasi mau, dengan metode dan manajemen baru. Kalau perlu manajemennya paguyuban," ujar Menteri KKP, Sakti Wahyu Trenggono.

Hal ini disampaikannya saat melakukan kunjungan kerja dan berdialog dengan para pembudidaya Bumi Dipasena di Kantor Sekretariat Perhimpunan Petambak, Pembudidaya Udang Wilayah (P3UW) Lampung, Selasa. 

Menurut dia, revitalisasi itu harus meliputi segala lini, mulai dari infrastruktur, penyediaan bahan baku budidaya, hingga pemasaran hasil produksi (panen). 

Solusi revitalisasi tersebut tentu perlu juga berkoordinasi dan diskusi lebih lanjut, baik dengan perwakilan pembudidaya Bumi Dipasena, Pemda, maupun kementerian, dan lembaga terkait.

"Persyaratan budidaya yang baik itu, pertama air yang bagus, ada IPAL, lalu kincir. Kemudian infrastruktur lainnya sebagai pendukung, seperti pabrik pakan yang bisa terus menerus memenuhi kebutuhan," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Petambak Pembudidaya Udang Wilayah Lampung (P3UW Lampung), Suratman mengungkapkan, pihaknya siap bersinergi bersama jajaran pemerintah, baik pusat maupun daerah, termasuk pihak terkait lainnya untuk membangkitkan kembali tambak udang Dipasena.

Lebih dari itu, Suratman juga berharap pemerintah dapat mendukung beberapa hal yang menjadi kendala bagi petambak Dipasena. Kendala itu, antara lain perbaikan jalan nasional Simpang Penawar-Rawajitu sepanjang 68 km, penambahan alat berat untuk revitalisasi saluran air, dan pengadaan faskes rawat inap.

Diketahui, kawasan tambak Bumi Dipasena memiliki luas sekitar 6.800 hektare, terdiri dari 17.139 petak. Dengan rincian 14.609 petak di antaranya produktif dan sisanya tidak. Komoditas yang dibudidayakan hampir 100% udang vaname.

Volume produksi udang di rentang 30 sampai 70 ton per hari, dengan nilai ekonomi mencapai Rp1,08 triliun per tahun. Sementara jumlah masyarakat yang menggantungkan hidup dari kegiatan tersebut sebanyak 6.500 kepala keluarga.

Selain dari penjualan udang, perputaran uang di Bumi Dipasena dihasilkan dari kebutuhan benur udang sebanyak 1,95 miliar ekor yang mencapai Rp78,2 miliar per tahun. Kemudian pembelian pakan, obat-obatan, hingga pembelian es dengan nilai ekonomi hingga ratusan miliar rupiah per tahun. (ed/ris/ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK

Back to Top