Peringatan Pembantaian di Sudan, Dua Orang Pengunjuk Rasa Tewas Tertembak

Dalam pernyataan terpisah, Perdana Menteri Sudan, Abdalla Hamdok, menggambarkan penggunaan tembakan terhadap pengunjuk rasa damai sebagai kejahatan yang menuntut keadilan segera.

Foto: Reuters via Sabcnews

SUDAN, IPHEDIA.com - Dua pria tewas setelah pasukan keamanan Sudan pada Selasa waktu setempat menembakkan peluru tajam dan gas air mata ke arah demonstran yang menandai peringatan serangan mematikan di lokasi protes selama pemberontakan tahun 2019 di negara itu, kata petugas medis, kelompok protes dan saksi mata.

Sebagai tanggapan, demonstrasi larut malam bermunculan di seluruh ibu kota Khartoum dan foto-foto pengunjuk rasa yang memblokir jalan dengan batu bata dan ban yang terbakar muncul di media sosial.

Dalam pernyataannya Rabu pagi waktu setempat, militer Sudan mengatakan dua orang tewas dalam apa yang disebutnya peristiwa yang tidak diinginkan ketika pengunjuk rasa meninggalkan lokasi protes. 

Dikatakan, pihak militer Sudan akan menyelidiki dan bekerja sama sepenuhnya dengan otoritas peradilan, termasuk menyerahkan siapa pun yang terbukti terlibat.

Dalam pernyataan terpisah, Perdana Menteri Sudan, Abdalla Hamdok, menggambarkan penggunaan tembakan terhadap pengunjuk rasa damai sebagai kejahatan yang menuntut keadilan segera.

Kerumunan telah berkumpul di pusat Khartoum untuk memperingati ulang tahun kedua, menurut kalender Islam, dari penggerebekan protes duduk pada tahun 2019.

Meskipun jalan menuju lokasi duduk di depan markas militer diblokir, saksi mata mengatakan massa berunjuk rasa, menuntut keadilan atas serangan 2019.

Dua pria tewas karena luka tembak, kata seorang sumber medis, kelompok protes Asosiasi Profesional Sudan dan saksi mata, dan lebih dari 20 orang terluka.

Pada saat penggerebekan 2019, pihak oposisi Sudan mengatakan 127 orang tewas, sementara pihak berwenang menyebutkan korban tewas 87. Tidak ada yang dimintai pertanggungjawaban, karena penyelidikan jangka panjang belum selesai.

Menanggapi pembunuhan pada Selasa, aliansi keluarga dari mereka yang terbunuh selama pemberontakan mengatakan di halaman Facebook resmi mereka bahwa mereka akan mulai mengorganisir perlawanan non-kekerasan nasional.

"Lambatnya sistem peradilan dalam mengungkap kejahatan dan membawa para penjahat ke pengadilan telah menjadi perhatian yang konstan," kata Hamdok dalam pernyataan itu, melansir Reuters.

Hamdok menyerukan pertemuan antara militer Sudan dan kepemimpinan sipil. Sudan diperintah oleh kemitraan antara militer dan partai politik sipil yang menunjuk Hamdok dan sebagian besar kabinet. (rts/ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK

Back to Top