Pemimpin Houthi Tolak Sanksi AS Terhadap Pejabat Militer dan Mengancam Serangan Lebih Luas

"Sanksi tidak membuat takut para mujahidin," kata Mohammed Ali al-Houthi, kepala komite revolusioner tertinggi kelompok itu, dalam sebuah posting Twitter.

Mohamed Ali al-Houthi, kepala komite revolusioner tertinggi Houthi (Foto: Reuters)

YAMAN, IPHEDIA.com - Seorang pemimpin gerakan Houthi yang berpihak pada Iran di Yaman pada Minggu menolak sanksi AS terhadap para pejabat militer dan mengancam kemungkinan serangan yang diperluas terhadap negara-negara agresor setelah Washington mendesak kelompok itu untuk terlibat secara serius dalam upaya perdamaian.

Sebelumnya, Amerika Serikat pada Kamis memberlakukan sanksi terhadap dua pejabat militer Houthi yang memimpin serangan untuk merebut wilayah Marib Yaman ketika utusan khusus AS di Yaman menyerukan de-eskalasi dan mendesak kesepakatan gencatan senjata.

Houthi telah berperang melawan koalisi militer pimpinan Arab Saudi selama lebih dari enam tahun dalam perang yang telah menewaskan puluhan ribu orang dan mendorong Yaman ke ambang kelaparan.

"Sanksi tidak membuat takut para mujahidin," kata Mohammed Ali al-Houthi, kepala komite revolusioner tertinggi kelompok itu, dalam sebuah posting Twitter, melansir Reuters

"Jika mereka melanjutkan blokade dan agresi, maka mungkin akan ada serangan di lokasi yang tidak terduga di beberapa negara penyerang," imbuhnya.

Gerakan itu terus melakukan serangan lintas batas ke Arab Saudi dan serangannya di Marib yang kaya gas di Yaman setelah Riyadh pada Maret mengusulkan kesepakatan gencatan senjata nasional, yang mencakup pembukaan kembali hubungan udara dan laut ke daerah-daerah yang dikuasai Houthi.

Tetapi Houthi bersikeras pembatasan dicabut di pelabuhan Hodeidah, pintu masuk utama impor komersial dan bantuan Yaman dan bandara Sanaa sebelum pembicaraan gencatan senjata.

Koalisi pimpinan Saudi melakukan intervensi di Yaman pada Maret 2015 setelah Houthi menggulingkan pemerintah yang diakui secara internasional dari ibu kota, Sanaa, dalam konflik yang secara luas dipandang sebagai perang proksi antara saingannya, Arab Saudi dan Iran.

Utusan AS, Tim Lenderking, pada Kamis juga mendesak koalisi untuk menghapus pembatasan di semua pelabuhan dan bandara Yaman untuk meringankan apa yang dikatakan PBB sebagai krisis kemanusiaan terbesar di dunia. (rts/ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK


Back to Top