Menlu Blinken: AS Dukung Ukraina Melawan Gerakan Rusia

"Saya dapat memberitahu Anda, Tuan Presiden, bahwa kami berdiri teguh dengan Anda, mitra juga demikian. Saya mendengar hal yang sama ketika saya berada di NATO beberapa minggu yang lalu dan kami mengharapkan Rusia untuk menghentikan tindakan sembrono dan agresif," kata Blinken, berbicara bersama Zelenskiy.

Foto: Reuters

KYIV, IPHEDIA.com - Menteri Luar Negeri (Menlu) AS, Antony Blinken, mengatakan bahwa Washington dapat meningkatkan bantuan keamanan untuk Ukraina setelah apa yang disebutnya tindakan "sembrono dan agresif" Rusia dalam pengumpulan pasukan di dekat perbatasan Ukraina.

Selama kunjungan ke Kyiv, Blinken pada Kamis waktu setempat mengatakan Rusia telah meninggalkan sejumlah besar tentara dan peralatan meskipun mengumumkan penarikan pasukannya dari daerah itu mengalami kebuntuan dan mengkhawatirkan Barat.

Blinken juga mengatakan Presiden Joe Biden ingin mengunjungi Ukraina dan bertemu dengan Presiden Volodymyr Zelenskiy, tetapi tidak memberikan rincian tentang itu, atau tentang pandangan Washington tentang aspirasi Ukraina untuk bergabung dengan aliansi militer NATO.

"Saya dapat memberitahu Anda, Tuan Presiden, bahwa kami berdiri teguh dengan Anda, mitra juga demikian. Saya mendengar hal yang sama ketika saya berada di NATO beberapa minggu yang lalu dan kami mengharapkan Rusia untuk menghentikan tindakan sembrono dan agresif," kata Blinken, berbicara bersama Zelenskiy.

Dia mengatakan Washington secara aktif mencari penguatan lebih jauh lagi kerja sama dan bantuan keamanan.

Di Washington, juru bicara Gedung Putih Karine Jean-Pierre, ditanya tentang Ukraina, melansir Reuters, Jumat, mengatakan bahwa pemerintah berkomitmen untuk tetap membuka pintu bagi negara-negara untuk bergabung ketika mereka siap dan mampu memenuhi komitmen dan kewajiban keanggotaan dan dapat berkontribusi pada keamanan di Area Euro-Atlantik.

Zelenskiy mengatakan Rusia hanya menarik sekitar 3.500 dari puluhan ribu pasukan yang dikerahkan ke Semenanjung Krimea, yang dianeksasi dari Ukraina pada 2014. "Mungkin ada ancaman. Tidak ada yang menginginkan kejutan ini," katanya. (rts/ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK


Back to Top