Filipina Kembali Protes Kehadiran Kapal dari China di Laut China Selatan

Ketegangan antara Manila dan Beijing telah meningkat selama berbulan-bulan sejak kehadiran ratusan kapal China di zona ekonomi eksklusif 200 mil Filipina. Filipina yakin kapal-kapal itu diawaki oleh milisi, sementara Beijing mengatakan mereka adalah kapal penangkap ikan yang berlindung dari cuaca buruk.

Foto: Reuters

MANILA, IPHEDIA.com - Filipina kembali memprotes kehadiran dan aktivitas kapal ilegal China yang terus berlanjut di dekat sebuah pulau di Laut China Selatan yang dikuasai oleh negara Asia Tenggara itu, kata kementerian luar negeri pada Sabtu.

Manila mengajukan protes diplomatik pada Jumat atas penyebaran yang tak henti-hentinya, kehadiran yang berkepanjangan, dan aktivitas ilegal aset maritim China dan kapal penangkap ikan di sekitar pulau Thitu. Mereka menuntut negara tetangganya itu menarik kapal.

Ketegangan antara Manila dan Beijing telah meningkat selama berbulan-bulan sejak kehadiran ratusan kapal China di zona ekonomi eksklusif 200 mil Filipina. Filipina yakin kapal-kapal itu diawaki oleh milisi, sementara Beijing mengatakan mereka adalah kapal penangkap ikan yang berlindung dari cuaca buruk.

"Kepulauan Pag-asa adalah bagian integral dari Filipina yang memiliki kedaulatan dan yurisdiksi," kata kementerian luar negeri dalam sebuah pernyataan, melansir Reuters.

Thitu, yang dikenal sebagai Pag-asa di Filipina, berjarak 451 km (280 mil) dari daratan dan merupakan yang terbesar dari delapan terumbu karang, beting, dan pulau yang didudukinya di kepulauan Spratly.

China telah membangun kota mini dengan landasan pacu, hanggar, dan rudal permukaan-ke-udara di Subi Reef sekitar 25 km (15 mil) dari Thitu.

Ini setidaknya merupakan protes diplomatik ke-84 yang diajukan Filipina terhadap China sejak Presiden Rodrigo Duterte menjabat pada 2016.

Pengadilan internasional tahun itu membatalkan klaim ekspansif China di Laut China Selatan, di mana perdagangan yang ditanggung kapal senilai sekitar $ 3 triliun lewat setiap tahun. Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam juga bersaing mengklaim berbagai pulau dan fitur di daerah tersebut.

Duterte mengesampingkan putusan yang menguntungkan itu dan mengharap pemulihan hubungan dengan Beijing sebagai imbalan atas janji miliaran dolar pinjaman, bantuan, dan investasi, yang sebagian besar tertunda. (rts/ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK

Back to Top