Dorong Pemulihan Ekonomi, OJK Terus Perkuat Kontribusi Sektor Jasa Keuangan di Lampung

"Terlebih, saat ini suku bunga kredit perbankan juga menunjukkan tren menurun, sehingga semakin mendorong akses pembiayaan modal kerja, dan investasi menjadi lebih murah dan menarik untuk dunia usaha," kata Kepala OJK Provinsi Lampung, Bambang Hermanto.



BANDARLAMPUNG, IPHEDIA.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung terus berupaya menjaga sektor jasa keuangan di Provinsi Lampung tetap stabil dan berkontribusi dalam mendorong pemulihan perekonomian di daerah ini. 

"Terlebih, saat ini suku bunga kredit perbankan juga menunjukkan tren menurun, sehingga semakin mendorong akses pembiayaan modal kerja, dan investasi menjadi lebih murah dan menarik untuk dunia usaha," kata Kepala OJK Provinsi Lampung, Bambang Hermanto, dalam Media Update Pemaparan Industri Jasa Keuangan di Provinsi Lampung (Triwulan 1-2021) di Emersia Hotel & Resort, Jumat.

Ia mengatakan, dalam rangka Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dilakukan memberikan kebijakan relaksasi lanjutan, berupa pemberian pelonggaran ketentuan prudential penurunan aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR), yang dikaitkan dengan Loan to Value (LTV) ratio dan profil risiko.

Tak hanya itu, Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) sebagai upaya untuk menurunkan beban cost of regulation, turut memberikan keleluasaan bagi calon debitur di daerah untuk memperoleh kredit kendaraan bermotor, perumahan, dan sektor jasa kesehatan.

Berdasarkan data realisasi Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di Provinsi Lampung pada Triwulan I-2021, tercatat penempatan dana pemerintah di Bank Himbara, yang kemudian diteruskan menjadi penyaluran kredit dalam rangka PEN di wilayah Provinsi Lampung telah mencapai Rp10,48 triliun dengan jumlah 274.447 debitur.

Jumlah tersebut telah meningkat hampir 2 kali lipat dari posisi Desember 2020 yang tercatat sebesar Rp 5,40 triliun dengan 133.738 debitur. Sedangkan total restrukturisasi kredit telah diberikan kepada 73.797 debitur dengan nominal mencapai sebesar Rp 6,65 triliun atau 18,54% dari keseluruhan kredit yang diberikan. 

Rinciannya, sebesar Rp 6,24 triliun (71.897 debitur) dilakukan oleh Bank Umum/Bank Umum Syariah dan sebesar Rp 407,64 miliar (1.900 debitur) dilakukan oleh Bank Perkreditan Rakyat/Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Total restrukturisasi kredit di Triwulan 1- 2021 tersebut menunjukkan angka penurunan sebesar Rp 215 miliar dari posisi sebelumnya Triwulan IV-2020.

Sementara pelaksanaan restrukturisasi di Lembaga Pembiayaan juga masih berlangsung, tercatat nilai outstanding (dikurangi nilai pelunasan) restrukturisasi kredit dan debitur restrukturisasi perusahaan pembiayaan akibat pandemi Covid-19 sampai dengan Maret 2021 terlihat cenderung menurun mencapai Rp 3.891 miliar, dibandingkan posisi Desember 2020 sebesar Rp3.904 miliar. (ed/riz/ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK

Back to Top