Bangka Belitung Rangkul Penyandang Disabilitas dan Pengguna Narkoba

Gubernur Erzaldi mengharapkan program ini dapat berjalan lancar, sehingga pihaknya siap mendukung dari berbagai sisi, di antaranya dengan menyandingkan yayasan ini dengan tim dari Dinsos Babel dan RSJD Babel dalam satu audiensi, serta Dinas Pemdes Babel ke depan.



PANGKALPINANG, IPHEDIA.com - Penyalahgunaan narkoba dan penyandang disabilitas di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) merupakan dua permasalahan besar yang tidak bisa diabaikan. 

Untuk itu, sebagai salah satu upaya penanggulangan, Gubernur Babel, Erzaldi Rosman, bersinergi dengan Yayasan Rehabilitasi Mental Moeliya dengan melakukan audiensi di Ruang Kerja Gubernur Babel, Jumat.

Gubernur Erzaldi mengharapkan program ini dapat berjalan lancar, sehingga pihaknya siap mendukung dari berbagai sisi, di antaranya dengan menyandingkan yayasan ini dengan tim dari Dinsos Babel dan RSJD Babel dalam satu audiensi, serta Dinas Pemdes Babel ke depan. 

Selain itu, dirinya berharap pemprov dalam waktu dekat akan memiliki Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS). "Saya minta dalam waktu satu bulan LKS dan juga perda sudah dapat berjalan. Sedangkan untuk program dapat segera dimatangkan," ujar Gubernur Erzaldi.

Untuk menguatkan program tersebut, pihaknya juga perlu berkolaborasi dengan pusat melalui ketua yayasan yang sudah terkoneksi dengan pusat dan akan pantau kegiatan ini terutama goalnya.

"Untuk permasalahan relawan dan sebagainya, bisa dibicarakan dengan pihak terkait yang ada di sini, dan juga Dinas Pemdes Babel karena, program ini akan menyasar sampai ke tingkat kabupaten/kota," lanjutnya.

Adapun misi dari program kegiatan inklusi disabilitas dan anti narkoba yang dipaparkan dalam audiensi adalah 100 desa/kelurahan sebagai pembina,1.000 relawan sebagai penggerak, dan 10.000 keluarga yang peduli dengan melibatkan semua stakeholders terkait. 

Cakupan kegiatan ini, terdiri dari pelayanan rujukan, pelayanan dukungan kapasitas, pelayanan rujukan, pelayanan dukungan kapasitas yang merujuk spektrum pencegahan, dan penanganan pemulihan serta pemberdayaan.

"Hasil audiensi ini akan menghasilkan program kerja seperti apa dengan diskusi bersama tim dari Dinsos dan RSJD. Program ini akan dimulai dari dua wilayah yaitu Kota Pangkalpinang dan Kabupaten Bangka, sesuai target bapak gubernur paling lama satu bulan," jelas Ketua Yayasan, Angga Saputra.

Sejauh ini, Yayasan Pendaki Sehati Bangka Belitung terfokus kepada korban penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (Napza). Kemudian, dalam perjalanannya yayasan ini menemukan bahwa dalam 10 orang korban penyalahgunaan Napza, terdapat 5-7 orang yang juga menderita disabilitas mental. 

"Sejak memulai program di awal tahun 2021, telah ada 50 orang korban penyalahgunaan Napza dari beberapa daerah, di antaranya Bekasi, Pekan Baru, Indramayu, dan Babel 90 persen di antaranya berasal dari Babel, yakni Kabupaten Bangka dan Kota Pangkalpinang. Dari 50 orang tersebut, lebih dari setengahnya mengalami gangguan jiwa," papar Angga Saputra.

Mereka mendirikan Yayasan Rehabilitasi Mental Moeliya memfokuskan diri kepada program penyandang disabilitas sehingga bisa saling melengkapi dalam satu payung hukum dengan konsep inklusi.

"Selama ini banyak keluarga dan juga lingkungan sekitar yang tidak peduli dengan penyandang disabilitas maupun pengguna narkoba. Bahkan, ada keluarga penyandang disabilitas mental yang mengurung korban tanpa tersentuh bantuan medis. Hal seperti ini yang kemudian akan kita edukasi dan rehabilitasi," tambahnya. (ris/ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK


Back to Top