Skandal Burger Patty, Jaksa Cabut Tuduhan Terhadap McDonald's Korea

Kantor Kejaksaan Distrik Pusat Seoul mengatakan telah memutuskan untuk tidak mendakwa McDonald's Korea setelah menyimpulkan bahwa sulit untuk mengakui hubungan kausal antara hamburger dari McDonald's Korea dan penyakit hamburger.

Foto: Yonhap

SEOUL, IPHEDIA.com - Jaksa Korea Selatan pada Jumat memutuskan untuk tidak mengajukan tuntutan terhadap unit lokal McDonald's setelah menyelesaikan penyelidikan ulang mereka atas apa yang disebut kasus penyakit hamburger yang melibatkan beberapa konsumen lokal dari raksasa makanan cepat saji Amerika itu.

Kantor Kejaksaan Distrik Pusat Seoul mengatakan telah memutuskan untuk tidak mendakwa McDonald's Korea setelah menyimpulkan bahwa sulit untuk mengakui hubungan kausal antara hamburger dari McDonald's Korea dan penyakit hamburger, yang juga dikenal sebagai sindrom uremik hemolitik (HUS), yang menyebabkan ginjal akut cedera pada anak-anak.

Jaksa penuntut mengatakan bahwa sulit untuk mengatakan bahwa McDonald's Korea membuat dan menjual hamburger setelah mengetahui adanya kontaminasi atau kemungkinan kontaminasi roti dari pemasok daging Mackie Korea.

Dengan mencapai kesimpulan seperti itu, penuntut menyarankan bahwa sulit untuk mengakui adanya kesengajaan dari pihak McDonald's Korea, melansir Yonhap

Namun, saat mencabut dakwaan terhadap raksasa makanan cepat saji itu, jaksa penuntut mengatakan pihaknya mendakwa mantan eksekutif McDonald's Korea bermarga Kim dan dua pejabat Mackie Korea tanpa penahanan atas tuduhan menipu pejabat pemerintah mengenai jumlah roti yang terkontaminasi untuk menghindari sanksi administratif.

Skandal burger patty dimulai pada Juli 2017, ketika ibu dari seorang gadis berusia 5 tahun mengajukan keluhan yang menuduh McDonald's Korea bertanggung jawab atas penyakit ginjal anaknya yang tidak dapat disembuhkan.

Sang ibu mengklaim bahwa putrinya didiagnosis menderita HUS setelah makan salah satu burgernya yang disajikan dengan patty yang belum matang pada September 2016.

Setelah serangkaian keluhan serupa menyusul, penuntut meluncurkan penyelidikan atas tuduhan tersebut.

Namun, pada Februari 2018, jaksa penuntut memutuskan untuk tidak mengajukan tuntutan terhadap rantai makanan cepat saji tersebut, dengan alasan tidak cukup bukti untuk mendukung tuduhan tersebut.

Penuntutan memulai penyelidikan ulang atas kasus tersebut pada Januari 2019 setelah pengaduan baru diajukan oleh sembilan kelompok sipil.

Kelompok masyarakat berpendapat bahwa McDonald's Korea melakukan kesalahan karena salah mengatur suhu memasak patty, tetapi penuntut juga menolak klaim tersebut dengan alasan kurangnya bukti.

Meski demikian, jaksa penuntut mengatakan perusahaan diharuskan membuat aturan baru untuk secara teratur mengukur suhu memasak daging giling untuk mencegah terulangnya kasus serupa. (yhp/ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK

Back to Top