Redupaksa Keponakan Sendiri yang Masih di Bawah Umur, Pria Ini Ditangkap Polres Lampung Tengah

''Penangkapan pelaku ini bermula dari laporan Kepala Dusun IV Kampung Gorasjaya Kecamatan Bekri ke Unit PPA Polres Lampung Tengah,'' kata Kasat Reskrim AKP Edi Qorinas, SH, MH., mewakili Kapolres Lampung Tengah, AKBP Popon Ardianto, S.IK, SH.



BEKRI, IPHEDIA.com - Redupaksa keponakannya sendiri --sebut saja nama korban Bunga--, inisial Aber (65) warga Dusun IV Kampung Gorasjaya, Kecamatan Bekri, Kabupaten Lampung Tengah (Lamteng), Provinsi Lampung, ditangkap Unit PPA Polres Lamteng di rumahnya. 

''Penangkapan pelaku ini bermula dari laporan Kepala Dusun IV Kampung Gorasjaya Kecamatan Bekri ke Unit PPA Polres Lampung Tengah,'' kata Kasat Reskrim AKP Edi Qorinas, SH, MH., mewakili Kapolres Lampung Tengah, AKBP Popon Ardianto, S.IK, SH., Sabtu.

Didampingi Kepala Dusun IV Kampung Gorasjaya, korban Bunga saat melapor ke polisi juga membawa barang bukti, berupa pakaian yang dikenakan sewaktu di redupaksa oleh pelaku (pamannya). Dipimpin Ipda Etty Meirini, S.IP., pelaku dijemput di rumahnya, Jum’at, 9 April 2021, sekira pukul 23.00 WIB.    

Perbuatan bejat pelaku ini ternyata sudah berlangsung beberapa tahun lalu. Sebelumnya, ayah Bunga pada 2009 meninggal dunia. Pelaku mendatangi Bunga yang waktu itu berusia 8 tahun. Sejak itu pula, pelaku mulai melakukan perbuatan cabul terhadap korban. Dalam seminggunya bisa sebanyak 3 kali. Saat Bunga berusia 9 tahun, pelaku mulai menyetubuhinya, yang terakhir kali pada Desember 2020. 

Modus pelaku menyetubuhi Bunga, yaitu datang ke rumah korban sekitar jam 24.00 WIB (tengah malam), yang mana saat itu ibunya telah tertidur. Kemudian, pelaku mengajak Bunga masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam, lalu menyetubuhinya. Jika tidak menuruti kemauannya, pelaku mengancam akan membunuh Bunga, hingga akhirnya korban hamil 8 bulan.

Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 81 Ayat (1), Pasal 81 Ayat (2), Pasal 82 Ayat (1) UU RI Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas UU RI No 23 Tahun 2082. 

Kemudian, Pasal 76D dan 76E tentang Perlindungan Anak dan UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, diancam hukuman selama paling lama 15 tahun penjara. (Bi2t/Ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK

Back to Top