Pengunjuk Rasa Tentang Tindakan Keras Junta Myanmar, Lima Tewas dan Puluhan Kritikus Diburu

Terlepas pembunuhan lebih dari 550 orang oleh pasukan keamanan sejak kudeta 1 Februari, pengunjuk rasa datang setiap hari, seringkali dalam kelompok-kelompok kecil di kota-kota kecil.

Foto: Reuters

YANGON, IPHEDIA.com - Pasukan keamanan Myanmar menembaki protes pro-demokrasi pada Sabtu waktu setempat yang menewaskan sedikitnya lima orang, kata seorang pengunjuk rasa dan media, ketika militer meningkatkan upayanya untuk membungkam perbedaan pendapat dengan surat perintah penangkapan untuk 20 kritikus.

Terlepas pembunuhan lebih dari 550 orang oleh pasukan keamanan sejak kudeta 1 Februari, pengunjuk rasa datang setiap hari, seringkali dalam kelompok-kelompok kecil di kota-kota kecil, untuk menyuarakan penentangan terhadap penggulingan pemerintah terpilih yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi dan kembalinya kekuasaan militer.

Pasukan keamanan di pusat kota Monywa, yang telah menyaksikan protes setiap hari selama berminggu-minggu, menembaki kerumunan yang menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai beberapa lainnya, kata dua organisasi media.

"Mereka mulai menembak tanpa henti dengan granat setrum dan peluru tajam," kata pengunjuk rasa di Monywa, yang menolak disebutkan namanya melalui aplikasi pesan.

“Orang-orang mundur dan dengan cepat memasang penghalang, tetapi peluru mengenai seseorang di depan saya, di kepala. Dia mati di tempat," terangnya.

Seorang pria ditembak dan tewas di kota selatan Thaton, menurut laporan portal berita online Bago Weekly Journal dan penduduk setempat. Polisi juga melepaskan tembakan di pusat kota Bago, melukai satu orang. Protes juga berlangsung di kota kedua Myanmar, Mandalay, dan kota utara Hpakant, lapor media.

Militer mengatakan mereka yang tewas memicu kekerasan, melakukan kudeta karena pemilihan November yang dimenangkan oleh partai Suu Kyi yang mencurangi, meski komisi pemilihan telah menolak pernyataan tersebut.

Kelompok aktivis Asosiasi Bantuan untuk Narapidana Politik, dalam sebuah pernyataan sebelumnya pada Sabtu, mengatakan pasukan keamanan telah membunuh 550 orang, 46 di antaranya adalah anak-anak sejak kudeta.

"Orang-orang masih melakukan protes setiap hari karena kami sangat yakin bahwa ini adalah pertarungan antara kebaikan dan kejahatan," kata pemimpin protes, Tayzar San, dalam pesan audio kepada Reuters. (rts/ip) 

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK

Back to Top