Menteri Pertahanan Australia Sebut Konflik dengan China atas Taiwan Tidak Boleh Diabaikan

"Saya tidak berpikir (konflik) harus diabaikan," kata Dutton dalam wawancara televisi di Australian Broadcasting Corp (ABC) ketika ditanya apakah prospek konflik di Taiwan meningkat.

Menteri Pertahanan Australia, Peter Dutton (Foto: AAP)

CANBERRA, IPHEDIA.com - Konflik dengan China atas Taiwan tidak boleh diabaikan, tetapi Australia akan bekerja dengan sekutunya di kawasan itu untuk mencoba dan memelihara perdamaian, kata Menteri Pertahanan Australia, Peter Dutton, Minggu.

"Saya tidak berpikir (konflik) harus diabaikan," kata Dutton dalam wawancara televisi di Australian Broadcasting Corp (ABC) ketika ditanya apakah prospek konflik di Taiwan meningkat.

Dia menambahkan bahwa China semakin jelas tentang ambisi reunifikasi dengan Taiwan. "Orang-orang harus realistis tentang aktivitas tersebut," kata Dutton. "Ada militerisasi pangkalan di seluruh wilayah. Jelas, ada sejumlah besar aktivitas dan ada permusuhan antara Taiwan dan China."

Dia menambahkan bahwa meskipun ada kesiapan tingkat tinggi bagi pasukan pertahanan Australia untuk menghadapi ancaman apa pun di kawasan tersebut terhadap sekutu negara itu, Canberra akan bekerja untuk mencoba menjaga perdamaian.

"Kami ingin memastikan bahwa kami terus menjadi tetangga yang baik di kawasan itu, bahwa kami bekerja dengan mitra kami dan dengan sekutu kami dan tidak ada yang ingin melihat konflik antara China dan Taiwan atau di mana pun," kata Dutton, melansir Reuters.

Hubungan diplomatik Australia dengan China, mitra dagang terbesarnya, telah memburuk sejak Canberra menyerukan penyelidikan internasional tentang asal-usul virus corona yang pertama kali dilaporkan di kota Wuhan di China, mendorong pembalasan perdagangan dari Beijing. (rts/ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK


Back to Top