Keluarga Korban KRI Nanggala-402 Dapat Pendampingan Psikologis dari Polda Lampung

Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Zahwani Pandra Arsyad, mengatakan pendampingan ini adalah pertolongan pertama psikologis kepada keluarga korban tenggelamnya (subsunk) KRI Nanggala-402.



BANDARLAMPUNG, IPHEDIA.com - Keluarga Letnan Kolonel (P) Heri Oktavian, Komandan KRI Nanggala-402 yang dinyatakan tenggelam (subsunk) di perairan Selat Bali sejak Rabu, 21 Maret 2021 mendapatkan pendampingan psikologis dari Tim Trauma Healing Biro Sumber Daya Manusia (SDM) dan Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokes) Polda Lampung.

Pendampingan psikologis tersebut dilakukan Tim Trauma Healing Biro SDM dan Biddokes Polda Lampung dengan menyambangi kediaman Murhaleni (73), ibunda Letkol (P) Heri Oktavian, di Perumahan Pelem Permai II, Jalan Turunan Pemuka, Kecamatan Rajabasa, Bandarlampung. 

Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Zahwani Pandra Arsyad, mengatakan pendampingan ini adalah pertolongan pertama psikologis kepada keluarga korban tenggelamnya (subsunk) KRI Nanggala-402.

"Psychological First Aid atau PFA ini dilakukan dengan hadir mendampingi keluarga korban, baik secara fisik maupun psikologis," kata Pandra, Senin.

Dengan adanya pendampingan ini, diharapkan mampu memfasilitasi keluarga korban dalam menghadapi kecemasan yang mungkin muncul saat masih menunggu kabar kejelasan informasi keberadaan Letkol (P) Heri Oktavian yang masih belum diketahui dalam insiden tenggelamnya (subsunk)  KRI Nanggala-402.

"Ada pendekatan khusus kepada para keluarga korban yang sedang menunggu hasil informasi resmi dari Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL)," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Tim Trauma Healing Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Polda Lampung, AKBP Yuni, menyebutkan pendampingan dilakukan dengan berkomunikasi secara langsung melalui proses konseling untuk memfasilitasi reaksi emosional, seperti ungkapan rasa sedih, cemas, marah dan penuh harap dari keluarga korban.

Yuni juga mengharapkan dengan layanan dukungan psikososial ini bisa mengurangi beban psikologis keluarga korban agar bisa terus bersabar dan tetap berdoa yang terbaik atas musibah kecelakaan itu, seraya mempersiapkan kondisi psikologis keluarga korban untuk menghadapi kemungkinan terburuk mengenai kondisi korban. (ed/ris/ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK


Back to Top