Kelola Limbah Tambang Timah, Kemenko Marves Bentuk Pokja

"Pembentukan pokja ini sangat penting, agar limbah penambangan bijih timah dapat dikelola dan dimanfaatkan untuk industri dalam negeri," kata Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kemenko Maritim dan Investasi, Nani Hendiarti.



PANGKALPINANG, IPHEDIA.com - Untuk meningkatkan produksi dalam negeri yang bernilai ekonomi tinggi, Kementerian Koordinator bidang Maritim dan Investasi  (Kemenko Marves) membentuk kelompok kerja (pokja) pengelolaan limbah penambangan bijih timah.

"Pembentukan pokja ini sangat penting, agar limbah penambangan bijih timah dapat dikelola dan dimanfaatkan untuk industri dalam negeri," kata Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kemenko Maritim dan Investasi, Nani Hendiarti, Jumat.

Menurutnya, limbah penambangan bijih timah, seperti monazit, ilmenit, zirkon dan mineral ikutan lainnya ini memiliki potensi sebagai pendapatan negara. 

Mengenai penanganan limbah tambang timah ini, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kemenko Marves pada Kamis pagi sudah melakukan kunjungan di dua perusahaan.

Kunjungan ke kedua perusahaan, yaitu PT Cinta Alam Lestari (CAL) dan PT Bersahaja Berkat Sahabat Jaya (BBSJ) yang berada di Batu Rusa, Sungailiat ini, guna melihat proses pemisahan timah dan mineral ikutan lainnya yang menghasilkan monasit, ilmenite, dan zirkon.

Rencana pembentukan task force (pokja) pengelolaan limbah penambangan bijih timah itu akan dibagi menjadi dua tim kerja. Tim pertama adalah pengawasan, pengendalian dan penegakan hukum. 

Lingkup kerja tim pertama ini terkait dugaan peredaraan/ekspor ilegal terhadap produk samping atau sisa hasil pengolahan tambang timah termasuk sisa hasil pemurnian (tin slag).

Tim kedua adalah tim kerja pemanfaatan untuk industri dalam negeri. Lingkup kerja tim meliputi pendataan jumlah atau volume limbah tambang timah di setiap usaha tambang timah dan smelter, melakukan penelitian kandungan elemen penting sisa hasil pengolahan, dan mengkaji pengembangan industri pemanfaatan kandungan logam tanah jarang. 

Tim kerja kedua ini difokuskan untuk mendukung produksi dalam negeri, di mana saat ini pemerintah sedang mendorong Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN).

Sementara itu, Gubernur Kepulauan Babel, Erzaldi Rosman Djohan, mendukung Kemenko Maritim dan Investasi yang mendorong Babel sebagai provinsi percontohan dalam pengelolaan mineral ikutan timah ini bagi provinsi lainnya, seperti Kepri Riau, Kalimantan dan daerah tambang lainnya. (ris/ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK

Back to Top