Gubernur Lampung Perjuangkan Masalah Perbedaan Bea Masuk Ekspor ke Beberapa Negara

"Kami siap memperjuangkan perbedaan bea masuk ekspor," kata Arinal saat memimpin rapat pembahasan dukungan kemudahan investasi dan ekspor Lampung, di Mahan Agung, Bandarlampung.



BANDARLAMPUNG, IPHEDIA.com - Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi, menyatakan siap memperjuangkan sejumlah masalah terkait ekspor Lampung, salah satunya perbedaan bea masuk ekspor ke sejumlah negara.

"Kami siap memperjuangkan perbedaan bea masuk ekspor ke beberapa negara," kata Arinal saat memimpin rapat pembahasan dukungan kemudahan investasi dan ekspor Lampung, di Mahan Agung, Bandarlampung, Kamis.

Selain itu, Gubernur Arinal juga akan melaporkan kepada pemerintah pusat terkait beberapa poin pembahasan tersebut sebagai upaya dalam memberikan dukungan kemudahan investasi dan ekspor Lampung. 

"Beberapa poin tersebut merupakan kewenangan pemerintah pusat. Untuk itu, nanti kami akan membuat kajian dan melaporkan kepada pemerintah pusat sebagai upaya dalam meningkatkan ekspor," ujarnya.

Sejumlah poin lainnya yang dibahas dalam rapat ini, yaitu masalah belum terselesaikannya perundingan dengan tujuan ekspor baru untuk buah segar dan kebijakan dilakukannya impor terhadap produk-produk yang mengakibatkan kerugian bagi petani atau produsen lokal.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi, mengajak pengusaha dalam hal ini PT Great Giant Pineapple (GGP) untuk bersama-sama mendukung upaya peningkatan ekspor Lampung.

Rapat juga dihadiri instansi vertikal dan perusahaan seperti PT Pelabuhan Indonesia II Panjang, KPPU Lampung, Kantor Bea Cukai Lampung, dan PT GGP.

Government Relations and External Affair Director GGP, Welly Soegiono, menuturkan bahwa penetapan bea masuk impor merupakan kebijakan masing-masing negara. Namun, yang menjadi persoalan adanya perbedaan tarif bea masuk di negara ekspor tujuan.

Seperti Indonesia, kata dia, melakukan ekspor buah salad ke Korea Selatan terkena bea masuk 40 persen, sedangkan dari Vietnam hanya terkena bea masuk 22,5 persen. 

Kemudian, Indonesia dengan tujuan Pakistan terkena bea masuk 20 persen, sedangkan Malaysia ke Pakistan bea masuknya 0 persen. 

“Ini merupakan bentuk diskriminasi. Apabila masalah ini dapat selesai, maka ekspor kita pasti akan meningkat. Tentunya untuk menyelesaikan permasalahan ini maka diperlukan perundingan,” katanya.

Welly mendukung upaya kemudahan ekspor Lampung yang hingga saat ini masih belum terselesaikan perundingannya. Salah satunya ekspor baru untuk buah segar.

“Rencana kita akan melakukan ekspor komoditas buah nanas segar ke China, namun hingga saat ini masih dalam proses perundingan. Apabila hal ini dapat terbuka, maka ekspor Lampung akan sangat meningkat,” paparnya.

Untuk itu, Welly berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan sebagai upaya untuk meningkatkan ekspor di Provinsi Lampung. (ed/riz/ip/)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK

Back to Top