Demonstran dan Polisi di Pakistan Bentrok, 3 Tewas dan Puluhan Terluka

Polisi itu tewas dalam bentrokan dengan para pendukung Saad Rizvi, kepala Tehreek-e-Labiak Pakistan yang ditangkap pada Senin, kata seorang perwira polisi senior, Ghulam Mohammad Dogar. Sepuluh polisi juga terluka dalam bentrokan ini di kota Shahadra dekat Lahore.

Foto: AP

LAHORE, IPHEDIA.com - Dua demonstran dan seorang polisi tewas pada Selasa dalam bentrokan kekerasan antara kelompok Islamis dan polisi di Pakistan, beberapa jam setelah pihak berwenang menangkap kepala partai Islam di kota Lahore timur, kata seorang pejabat senior dan media lokal melaporkan.

Polisi itu tewas dalam bentrokan dengan para pendukung Saad Rizvi, kepala Tehreek-e-Labiak Pakistan yang ditangkap pada Senin, kata seorang perwira polisi senior, Ghulam Mohammad Dogar. Sepuluh polisi juga terluka dalam bentrokan ini di kota Shahadra dekat Lahore.

Dua kelompok Islamis dilaporkan tewas di provinsi Punjab timur. Kekerasan dimulai Senin setelah polisi menangkap Rizvi karena mengancam protes jika pemerintah tidak mengusir duta besar Prancis karena penggambaran Nabi Muhammad.

Menurut Dogar, melansir AP, penangkapan itu bertujuan untuk menjaga hukum dan ketertiban. Tetapi penahanan Rizvi dengan cepat memicu protes kekerasan oleh kelompok Islamis di kota-kota di seluruh negeri. Para pengunjuk rasa memblokir jalan raya dan jalan di beberapa kota.

Bentrokan mematikan itu terjadi dua hari setelah Rizvi dalam sebuah pernyataan meminta pemerintah Perdana Menteri Imran Khan untuk menghormati apa yang dia katakan sebagai komitmen yang dibuat pada Februari kepada partainya. Namun, pemerintah menyatakan hanya berkomitmen untuk membahas masalah tersebut di DPR.

Bentrokan Senin awalnya meletus di Lahore, ibu kota provinsi Punjab timur. Pendukung Rizvi kemudian bentrok dengan polisi di kota pelabuhan selatan Karachi dan mereka terus berkumpul di pinggiran ibu kota Islamabad, mengganggu lalu lintas dan merepotkan penduduk.

Rizvi muncul sebagai pemimpin partai Tehreek-e-Labiak Pakistan pada November setelah kematian mendadak ayahnya, Khadim Hussein Rizvi. Para pendukungnya sebelumnya telah mengadakan demonstrasi kekerasan di Pakistan untuk menekan pemerintah agar tidak mencabut undang-undang penistaan ​​agama yang kontroversial di negara itu.

Pihak Rizvi ingin pemerintah memboikot produk Prancis dan mengusir duta besar Prancis berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani pemerintah dengan pihak Rizvi pada Februari lalu.

Tehreek-e-Labiak dan partai-partai Islam lainnya mengecam Presiden Prancis, Emmanuel Macron, sejak Oktober tahun lalu, dengan mengatakan dia mencoba membela karikatur Nabi Muhammad sebagai kebebasan berekspresi. 

Komentar Macron muncul setelah seorang pemuda Muslim memenggal kepala seorang guru sekolah Prancis yang telah menunjukkan karikatur Nabi Muhammad di kelas. (ap/ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK


Back to Top