Pasukan Keamanan Membunuh Lebih dari 100 Pengunjuk Rasa di Hari Angkatan Bersenjata Myanmar

Pembunuhan yang terjadi pada Hari Angkatan Bersenjata, menuai kecaman keras dari negara-negara Barat. Duta Besar Inggris, Dan Chugg, mengatakan pasukan keamanan telah mempermalukan diri mereka sendiri dan utusan AS menyebut kekerasan itu mengerikan. 

Foto: Reuters

YANGON, IPHEDIA.com - Pasukan keamanan Myanmar menewaskan 114 orang, termasuk beberapa anak, dalam penumpasan brutal terhadap pengunjuk rasa pro-demokrasi pada Sabtu, hari paling berdarah kekerasan sejak kudeta militer bulan lalu.

Pembunuhan yang terjadi pada Hari Angkatan Bersenjata, menuai kecaman keras dari negara-negara Barat. Duta Besar Inggris, Dan Chugg, mengatakan pasukan keamanan telah mempermalukan diri mereka sendiri dan utusan AS menyebut kekerasan itu mengerikan.

Jet militer juga melancarkan serangan udara di sebuah desa di wilayah yang dikuasai oleh kelompok bersenjata dari etnis minoritas Karen dan sedikitnya dua orang tewas, kata satu kelompok masyarakat sipil.

Sebelumnya, Serikat Nasional Karen mengatakan telah menyerbu sebuah pos militer dekat perbatasan Thailand, menewaskan 10 orang, termasuk seorang letnan kolonel dan kehilangan salah satu pejuangnya sendiri karena ketegangan dengan militer meningkat setelah bertahun-tahun relatif damai.

Jenderal Senior Min Aung Hlaing, pemimpin junta, mengatakan dalam parade untuk memperingati Hari Angkatan Bersenjata bahwa militer akan melindungi rakyat dan memperjuangkan demokrasi.

Demonstran muncul pada Sabtu di Yangon, Mandalay dan kota-kota lain, seperti yang telah mereka lakukan hampir setiap hari sejak kudeta 1 Februari yang menggulingkan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi.

Portal berita Myanmar Now melansir Reuters mengatakan 114 orang tewas di seluruh negeri dalam tindakan keras terhadap protes tersebut.

Sedikitnya 40 orang, termasuk seorang gadis berusia 13 tahun, tewas di Mandalay, dan sedikitnya 27 orang tewas di Yangon, kata Myanmar Now.

"Hari ini adalah hari yang memalukan bagi angkatan bersenjata," kata Dr. Sasa, juru bicara CRPH, kelompok anti-junta yang dibentuk oleh anggota parlemen yang digulingkan, kepada sebuah forum online. (rts/ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK


Back to Top