Kekerasan Berlanjut, Petugas Kesehatan Hingga Mahasiswa Kedokteran dan Apoteker di Myanmar Berunjuk Rasa

Sekitar 100 dokter, perawat, mahasiswa kedokteran, dan apoteker, mengenakan jas putih panjang, turun di jalan utama di Mandalay. Mereka meneriakkan slogan dan menyuarakan penentangan terhadap kudeta 1 Februari yang menggulingkan pemerintah sipil terpilih Aung San Suu Kyi.




MANDALAY, IPHEDIA.com - Petugas kesehatan berbaris melalui kota terbesar kedua di Myanmar pada Minggu fajar waktu setempat, memulai satu hari protes di seluruh negeri terhadap kudeta bulan lalu. 

Di tempat lain, polisi menggunakan kekerasan terhadap pengunjuk rasa dan pasukan keamanan menembak mati setidaknya satu orang.

Sekitar 100 dokter, perawat, mahasiswa kedokteran, dan apoteker, mengenakan jas putih panjang, turun di jalan utama di Mandalay. 

Mereka meneriakkan slogan dan menyuarakan penentangan terhadap kudeta 1 Februari yang menggulingkan pemerintah sipil terpilih Aung San Suu Kyi.

Mandalay telah menjadi pusat oposisi utama terhadap pengambilalihan tersebut, dan kemudian para insinyur di sana mengadakan apa yang disebut sebagai "pemogokan tanpa manusia". 

Namun, dalam beberapa pekan terakhir, jumlah pengunjuk rasa telah menurun dan jumlah korban tewas meningkat karena polisi dan tentara menembaki kerumunan. Asosiasi Bantuan independen untuk Tahanan Politik telah memverifikasi 247 kematian secara nasional.

Sementara pawai pagi Mandalay tidak diganggu oleh pasukan keamanan, setidaknya satu pengunjuk rasa ditembak mati Minggu di Monywa, kota Myanmar tengah lainnya, menurut situs berita online Myanmar Now dan banyak posting media sosial lainnya.

Myanmar Now melansir AP, mengutip seorang dokter di Monywa, mengidentifikasi korban sebagai Min Min Zaw, yang ditembak di kepala saat membantu barikade untuk protes. Hampir semua yang tewas sejak kudeta korban penembakan, dan dalam banyak kasus ditembak di kepala.

Di tempat lain, siswa, guru, dan insinyur berbaris di Dawei, sebuah kota di tenggara Myanmar yang telah menjadi hotspot oposisi dan telah menyaksikan setidaknya lima pembunuhan oleh pasukan keamanan.

Pada Minggu, pengunjuk rasa pecah menjadi kelompok-kelompok kecil dan mengubah waktu pawai mereka untuk menghindari konfrontasi. 

Aksi pengunjuk rasa selama akhir pekan mendapat dukungan dari demonstrasi di beberapa tempat di luar negeri, termasuk Tokyo, Taipei di Taiwan dan di Times Square di New York City.

Sementara hampir 250 kematian telah dikonfirmasi sejak kudeta, Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik mengatakan jumlah sebenarnya, termasuk kasus-kasus di mana verifikasi sulit dilakukan, mungkin jauh lebih tinggi.

Kelompok tersebut juga telah mengkonfirmasi bahwa 2.345 orang telah ditangkap atau didakwa sejak kudeta, dengan 1.994 orang masih ditahan atau dicari untuk ditangkap. (ap/ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK


Back to Top