-->

Diduga Adanya Malpraktek di Organ Tubuh Bayi 11 Bulan, Ini Penjelasan Direktur RS Raden Mattaher

Menurut Khairul Ulum, sebelumnya tidak ada konfirmasi terlebih dahulu oleh tenaga medis di RSUD Raden Mattaher Jambi untuk melakukan tindakan operasi dibagian perut terhadap putri tercintanya. Hanya saja untuk tindakan operasi dibagian kepala, karena pasien didiagnosa mengidap penyakit Hidrosefalus.



JAMBI, IPHEDIA.com - Wajah sedih tak dapat disembunyikan oleh pasangan suami isteri Khairul Ulum dan Wiwik Erwita. Bagaimana tidak, saat ini ia tengah dirundung pilu karena meninggalnya putri tercinta mereka.

Pada Rabu, 3 Maret 2021, ia terpaksa mengiklaskan buah hati tercinta Felica Khunlisa yang berusia 11 bulan untuk selama-lamanya setelah menjalani sejumlah perawatan medis di Rumah Sakit Umum (RSUD) Raden Mattaher Jambi.

Namun, dibalik itu, meninggalnya Felica Khunlisa masih ada tanda tanya bagi pasangan yang tinggal di RT 37, Kelurahan Pall Lima, Kota Jambi ini. Orang tua bayi ini menduga anak mereka merupakan korban malpraktek.

Pasalnya, ia bersama keluarga terkejut setelah pihak RS Raden Mattaher menyatakan anak tercintanya meninggal dunia. Di tubuh bagian perut sisi kanan bawah ditemukan bekas jahitan seperti baru usai dioperasi.

Menurut Khairul Ulum, sebelumnya tidak ada konfirmasi terlebih dahulu oleh tenaga medis di RSUD Raden Mattaher Jambi untuk melakukan tindakan operasi dibagian perut terhadap putri tercintanya. Hanya saja untuk tindakan operasi dibagian kepala, karena pasien didiagnosa mengidap penyakit Hidrosefalus.

“Kami mengetahui adanya bekas operasi dan jahitan di perut itu saat akan memandikan almarhumah. Seingat saya, tidak pernah ada pemberitahuan akan dilakukan operasi dibagian perut oleh pihak dokter,” kata dia.

Diakuinya, memang sebelumnya pernah melakukan tanda tangan berkas untuk tindakan medis, namun tidak pernah dijelaskan atau diberitahu bahwa ada tindakan medis melakukan operasi disisi kanan bawah perut putrinya. Tetapi untuk tindakan operasi di kepala.

Selain itu, pihak keluarga juga mengkhawatirkan selain dugaan malpraktek juga dikhawatirkan terjadinya pencurian organ tubuh. Karena, bekas operasi ditubuh putrinya Felica begitu besar jahitan yang tak rapih seperti dijahit asal dan dianggap tidak wajar.

Diceritakannya, sebelum dirawat di RS Umum Raden Mattaher Jambi, putri tercintanya terlebih dahulu mendapat perawatan medis di RS Dinas Kesehatan Tentara (DKT) dan didiagnosa berdasarkan scan kepala pasien terdapat cairan diotak yang harus dilakukan operasi.

Karena keterbatasan biaya, akhirnya Khairul Ulum sepakat untuk merujuk anaknya dari RS DKT ke RS Umum Daerah Raden Mattaher Jambi dengan dokter penanganan medis, yakni bernama Apri Anto.

“Oleh pihak rumah sakit Raden Mattaher Kota Jambi sendiri diambil tindakan untuk dilakukan operasi di bagian kepala dan kami pun setuju dengan persyaratan melakukan penandatanganan operasi, namun operasi tersebut oleh dokter Apri Yanto sebagai dokter yang melakukan operasi tidak mengatakan akan diadakan operasi di bagian perut,” jelasnya lagi.

Terkait itu, pihak RS Umum Raden Mattaher Jambi saat dikonfirmasi terkait adanya dugaan malpraktik yang diduga dilakukan oleh Dokter Apri Yanto tidak bisa memberikan keterangan lebih detail.

Sofran, Kabag Umum dan Humas RS Umum Daerah Raden Mattaher mengaku persoalan apa yang disampaikan itu tidak bisa ia jawab. Menurutnya, persoalan itu bukan dia yang membidanginya, hanya saja ia berjanji akan memfasilitasi untuk bertemu dengan yang dokter bersangkutan.

“Saya tidak bisa menjawab pertanyaan karena itu bukan bidang saya. Nanti saya akan pertemukan dengan pak Direktur Rumah Sakit dan dokter yang menangani pasien, jam 2 sianglah,” jelas Sofran pada Senin, 8  Februari 2021.

Sayangnya, ketika dilakukan konfirmasi ulang oleh wartawan ke ruangan yang sama dan di waktu yang berbeda, malah dipertemukan dengan bidang pelayanan medis bernama Niza.

Niza sendiri mengatakan bahwa proses operasi yang dilakukan oleh dokter tersebut sudah dilakukan sesuai dengan hasil scan. 

“Dilakukan operasi terhadap pasien sesuai dengan hasil petunjuk scan dan dari hasil scan adanya cairan Hydrocepalus pada bagian kepala pasien,” jelasnya Niza.

Sementara itu, Iphedia.com berhasil mewawancarai direktur Rumah Sakit Raden Mattaher. Melalui sambungan telepon, dr Mhd Fery Kusnadi, Sp.OG., menjelaskan jika operasi yang dilakukan sesuai prosedur, “Nggaklah malpraktek. Itu sudah sesuai prosedur dan semua tindakan persetujuan keluarga,” ucap dr Fery.

Mengenai adanya bekas luka jahitan di bagian perut sebelah kanan, menurut Fery, itu merupakan satu rangkaian dengan operasi hidrosefalus. Sebab, untuk membuang cairan dari kepala itu dialirkan ke lambung, makanya bagian perut harus dilakukan operasi untuk pemasangan selang pembuangan cairan. 

Disinggung apakah ada dugaan pengambilan organ tubuh, dr Fery memastikan itu tidak ada dan tidak akan pernah terjadi, terlebih pihaknya tidak memiliki peralatannya. (Hermanto/Ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK

Back to Top