BNNK Gresik Tangkap Pengedar Sabu dan Pil Koplo di Kalangan Pelajar

Menurut Kepala BNNK Gresik, AKBP Supriyanto, penangkapan tersangka Fikri Ahmad Ramadhan berawal dari informasi masyarakat. Dari laporan itu anggota di lapangan menindaklanjuti adanya peredaran pil koplo dan sabu di wilayah Desa Randegansari, Kecamatan Driyorejo.



SURABAYA, IPHEDIA.com - Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Gresik, meringkus Fikri Ahmad Ramadhan (22) warga Desa Setrohadi, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, yang kepergok mengedarkan 50 ribu pil koplo dan sabu untuk kalangan pelajar.

Di samping mengamankan barang bukti pil koplo, petugas BNN Kabupaten Gresik, Jatim juga menyita 5,18 gram sabu.

Menurut Kepala BNNK Gresik, AKBP Supriyanto, penangkapan tersangka Fikri Ahmad Ramadhan berawal dari informasi masyarakat. Dari laporan itu anggota di lapangan menindaklanjuti adanya peredaran pil koplo dan sabu di wilayah Desa Randegansari, Kecamatan Driyorejo.

“Tersangka kami amankan di tempat kosnya. Sebelum ditangkap anggota kami terlebih dulu sudah melakukan penyelidikan selama satu bulan mengamati gerak-gerik tersangka,” ujarnya, Jumat.

AKBP Supriyanto menambahkan, dari pengakuan tersangka sewaktu menjalani pemeriksaan, sebagian besar pembelinya dari kalangan pelajar serta orang tua. Setiap dari transaksi jual beli 20 gram sabu. Tersangka ini mendapat upah Rp 1 hingga Rp 2 juta.

“Tersangka Fikri Ahmad Ramadhan mendapatkan pil koplo dan sabu ini berasal dari rekannya yang berinisial ANS seorang bandar yang kini menjadi DPO,” jelasnya.

Modus yang dilakukan oleh tersangka, mengirim paket narkoba ini dengan sistem ranjau. Dimana, penjual dan pembeli terlebih dulu janjian lalu diletakkan ditempat yang telah disetujui. “Kalau ditotal 50 ribu pil koplo ini harganya bisa mencapai Rp35 sampai Rp50 juta,” ujar Supriyanto.

Tersangka Fikri Ahmad Ramadhan sebelumnya merupakan penjual kebab. Akibat pandemi Covid-19 dagangannya sepi lalu beralih menjadi pengedar pil koplo dan sabu.

Tersangka Fikri Ahmad Ramadhan mengatakan, dirinya terpaksa terjun sebagai pengedar narkoba baru tiga bulan. Profesi ini dilakukan karena kedua orang tuanya sudah bercerai. Sehingga, ia menjadi tulang punggung keluarga membiayai kedua adiknya yang masih bersekolah.

“Orang tua saya sudah cerai. Adik saya dua, yang satu masih kelas satu SMA dan satu duduk di bangku sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI),” ujarnya. (Sugeng/Ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK


Back to Top