-->

Turunkan Kasus Covid-19, Sebanyak 308 Desa di Sidoarjo Terapkan PPKM Mikro

Pj Bupati Sidoarjo, Hudiyono mengatakan, PPKM skala mikro sangat efektif menurunkan kasus Covid-19. Namun, pelaksanaannya harus terus diawasi, baik pengawasan dari pemerintah pusat maupun daerah. 



SIDOARJO, IPHEDIA.com - Sebanyak 308 desa yang ada di Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur (Jatim), telah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro. 

Jumlah tersebut sekitar 90 persen dari jumlah keseluruhan desa yang mencapai 118 desa. Hal itu dikatakan Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Sidoarjo, Probo Agus Sunarno, Rabu. 

Ia mengatakan, untuk sementara desa memakai anggaran dari pendapatan asli desa untuk kegiatan PPKM skala mikro. 

Pasalnya, anggaran dana desa masih menunggu persetujuan Kementerian Dalam Negeri terkait Perbup dana desa yang dikirimkan Kabupaten Sidoarjo. "Kalau Perbupnya turun bisa cair," ucapnya.

Dikatakannya, Pemkab Sidoarjo akan selalu mendukung upaya desa yang menerapkan PPKM skala mikro. 

Sosialisasi maupun pembinaan pencegahan penyebaran Covid-19 akan selalu dilakukan kepada masyarakat. Selain itu Tracing, Testing, Treatment/3T juga akan dilakukannya. "Termasuk Tracing, Testing dari Dinkes (Dinas Kesehatan) akan support," ucapnya.

Pj Bupati Sidoarjo, Hudiyono mengatakan, PPKM skala mikro sangat efektif menurunkan kasus Covid-19. Namun, pelaksanaannya harus terus diawasi, baik pengawasan dari pemerintah pusat maupun daerah. 

Menurutnya, hal itu penting agar pelaksanaannya benar-benar berjalan efektif menurunkan penyebaran Covid-19.

"PPKM mikro ini harus terus diawasi oleh pemerintah pusat, oleh pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan tentu sampai kecamatan dan desa, diawasi dalam arti pelaksanaannya itu benar-benar jalan," ucapnya.

Dirinya masih melihat ada kelemahan dalam tracing pada PPKM mikro tingkat RT. Seperti yang dijumpai di salah satu RT di Desa Tropodo Waru. Dari 8 kasus Covid-19 yang terjadi di RT tersebut hanya 12 orang yang di tracing atau dilakukan tes rapid antigen. 

Seharusnya, dari 2 kasus Covid-19, paling tidak 10 orang harus dilakukan rapid tes antigen. Untuk itu dirinya meminta ada komunikasi yang efektif dalam posko PPKM mikro tersebut. 

"Padahal teman-teman kesehatan dari Puskesmas, dari Dinas Kesehatan kabupaten sudah siap segalanya, rapid sudah siap, ruang isolasi juga siap, berarti nanti di tingkat RT harus terjadi komunikasi yang efektif ketika satu klaster, satu rumah terpapar positif, komunikasi ini jalan," pintanya.

Kepala Bidang Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan, dr Muhammad Atho`Illah, MM., yang ikut dalam evaluasi PPKM skala mikro secara virtual tersebut menyampaikan beberapa hari ini kasus Covid-19 mengalami penurunan. 

Bed Occupancy Rate (BOR) atau angka penggunaan tempat tidur di rumah sakit rujukan Covid-19 juga mengalami penurunan di bawah 70 persen.

"Dua hari ini untuk angka kasus aktif sudah turun dibandingkan dengan Minggu kemarin, Minggu kemarin di angka 270-250, sekarang sudah di angka 220 an," jelasnya. (Sugeng/Ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK

Back to Top