-->

Polisi Bubarkan Aksi Protes dengan Tembakan di Myanmar, Empat Terluka dan Satu Kritis

Insiden ini menandai pertumpahan darah pertama sejak militer yang dipimpin oleh Panglima Angkatan Darat Jenderal Senior Min Aung Hlaing menggulingkan pemerintahan Suu Kyi yang baru terpilih pada 1 Februari dan menahannya bersama politisi lainnya dari Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD).


Foto: Reuters


MYANMAR, IPHEDIA.com - Polisi dan pengunjuk rasa bentrok di Myanmar pada Selasa waktu setempat di hari demonstrasi menentang kudeta militer yang menggulingkan Aung San Suu Kyi.

Terkait insiden tersebut, seorang dokter mengatakan seorang wanita tidak mungkin selamat dari luka tembak di kepala. Tiga orang lainnya dirawat karena luka-luka dari peluru karet yang dicurigai setelah polisi menembakkan senjata, sebagian besar ke udara, dan menggunakan meriam air untuk mencoba membersihkan pengunjuk rasa di ibu kota Naypyitaw.

Televisi pemerintah melaporkan cedera pada polisi selama upaya mereka untuk membubarkan pengunjuk rasa, sebuah pengakuan pertama atas demonstrasi yang terjadi di negara itu.

Insiden ini menandai pertumpahan darah pertama sejak militer yang dipimpin oleh Panglima Angkatan Darat Jenderal Senior Min Aung Hlaing menggulingkan pemerintahan Suu Kyi yang baru terpilih pada 1 Februari dan menahannya bersama politisi lainnya dari Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD).

Militer menuduh bahwa NLD menang dengan penipuan. Namun, tuduhan itu dibantah oleh komite pemilihan dan pemerintah Barat. Pada Selasa malam waktu setempat melansir Reuters, Rabu, polisi di Myanmar menggerebek markas NLD di Yangon, kata dua anggota parlemen NLD terpilih.

Penggerebekan itu dilakukan oleh sekitar selusin personel polisi, yang memaksa masuk ke gedung di ibu kota komersial itu setelah gelap.

Protes tersebut adalah yang terbesar di Myanmar selama lebih dari satu dekade, menghidupkan kembali ingatan hampir setengah abad pemerintahan langsung militer dan gelombang pemberontakan berdarah sampai militer memulai proses penarikan diri dari politik sipil pada tahun 2011.

PBB meminta pasukan keamanan Myanmar untuk menghormati hak rakyat untuk melakukan protes secara damai. "Penggunaan kekuatan yang tidak proporsional terhadap para demonstran tidak dapat diterima," kata Ola Almgren, perwakilan PBB di Myanmar. (rts/ip)


Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK

Back to Top