Harga Singkong Terus Turun dan Sebut 6 Pabrik Lakukan Oligopoli, Cah Angon Usung Pansus DPRD

Ketika melakukan kunjungan ke Desa Sidodadi, Kecamatan Bandarsurabaya, Kabupaten Lampung Tengah, anggota dewan yang akrab dipanggil Cah Angon ini mendapat aduan puluhan petani singkong yang putus asa karena hasil pertaniannya tidak cukup untuk modal menanam kembali.




SIDODADI, IPHEDIA.com - Harga komoditas singkong atau ubi kayu yang terus mengalami penurunan, terutama di wilayah Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur membuat geram Anggota DPRD Provinsi Lampung dari Gerindra, I Made Suarjaya.

Pasalnya, ketika melakukan kunjungan ke Desa Sidodadi, Kecamatan Bandarsurabaya, Kabupaten Lampung Tengah, anggota dewan yang akrab dipanggil Cah Angon ini mendapat aduan puluhan petani singkong yang putus asa karena hasil pertaniannya tidak cukup untuk modal menanam kembali.

“Pabrik menerima singkong saat ini berkisar harga Rp.700/kg dengan potongan hingga 30%. Petani menangis pada saya, sebab hasil penjualan singkongnya tidak cukup untuk menanam kembali, ini kan gila. Saya tidak akan tinggal diam,” ungkapnya tegas kepada awak media, Jumat.

Lebih lanjut legislator ini mengatakan bahwa dirinya mencium ada intrik permainan oligopoli oleh sejumlah perusahaan pengolahan singkong di Lampung, sehingga harga sangat rendah di petani.

"Ini bukan monopoli tapi oligopoli antar sesama pengusaha. Saya usung pansus di DPRD untuk mengusut tuntas ini. Kami akan panggil para pemilik pabrik, saya sudah punya data ada 6 pabrik yang terbukti bermain," ujarnya tegas.

Ketika ditanya tentang perusahaan pengolah singkong tersebut, anggota dewan ini mengatakan bahwa perusahaan yang dilawannya merupakan pemain skala besar. Namun, dirinya menyatakan siap menanggung semua resiko demi membela kelangsungan hidup petani.

"Saya tahu ini perusahaan raksasa semua, saya sudah minta restu fraksi dan pimpinan partai di Lampung. Bila perlu saya akan menghadap pimpinan di Jakarta. Yang jelas oligopoli ini harus dilawan, buat apa perusahaan besar-besar tapi petani sengsara," tutupnya. (Bi2t/rls/Ip)


Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK

Back to Top