Di Tengah Aksi Protes Kudeta, Militer Myanmar Berikan Amnesti pada Lebih dari 23.000 Tahanan

Pembebasan tahanan ini dilakukan pada Hari Union, yang diperingati untuk menandai penyatuan negara, tetapi para pendukung pemimpin yang digulingkan Aung San Suu Kyi menentang seruan dari penguasa militer untuk menghentikan pertemuan massal saat protes memasuki hari ketujuh.


Foto: Reuters via Usnews


MYANMAR, IPHEDIA.com - Myanmar memberikan amnesti kepada lebih dari 23.000 tahanan dan pemimpin kudeta Jenderal Senior Min Aung Hlaing dan meminta orang-orang untuk "bergandengan tangan" dengan militer demi demokrasi pada Jumat.  

Pembebasan tahanan ini dilakukan pada Hari Union, yang diperingati untuk menandai penyatuan negara, tetapi para pendukung pemimpin yang digulingkan Aung San Suu Kyi menentang seruan dari penguasa militer untuk menghentikan pertemuan massal saat protes memasuki hari ketujuh.

“Saya dengan serius akan mendesak seluruh bangsa untuk bergandengan tangan dengan Tatmadaw untuk keberhasilan realisasi demokrasi,” kata Min Aung Hlaing, melansir Aljazeera, menggunakan istilah lokal untuk militer.

“Pelajaran sejarah telah mengajari kita bahwa hanya persatuan nasional yang dapat memastikan non-disintegrasi Persatuan dan pelestarian kedaulatan.”

Pengumuman tersebut mengatakan hukuman bagi tahanan Myanmar diberikan saat negara sedang membangun negara demokrasi baru dengan perdamaian, pembangunan dan disiplin untuk mengubah para tahanan menjadi warga negara tertentu yang layak, untuk menyenangkan publik dan untuk menciptakan dasar kemanusiaan dan belas kasih.

Hukuman 23.314 tahanan Myanmar dan 55 tahanan asing telah diberikan, menurut laporan tersebut.

Pada Jumat, setidaknya enam tembakan dilepaskan ketika polisi berusaha membubarkan protes terhadap militer di kota Mawlamyine, meneurut rekaman video yang diposting di Facebook.

Sementara itu, pasukan keamanan melakukan serangkaian penangkapan lainnya dalam semalam. Di antara mereka yang ditahan termasuk setidaknya satu dokter yang ikut serta dalam kampanye pembangkangan sipil yang meningkat.

Para pengunjuk rasa mendesak Washington untuk memperketat sanksi yang dikenakan pada jenderal yang berkuasa di Myanmar dan meminta militer membebaskan Aung San Suu Kyi dari tahanan rumah.

Sanksi AS menargetkan 10 pejabat militer dan mantan yang dianggap bertanggung jawab atas kudeta, termasuk Min Aung Hlaing. Mereka juga memasukkan tiga perusahaan permata dan giok yang dikatakan dimiliki atau dikendalikan oleh militer. (alj/ip)


Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK


Back to Top