Seoul Pindahkan Kapal Perang dari Selat Hormuz di Tengah Negosiasi Atas Kapal Tanker yang Disita Iran

Mundurnya Unit Cheonghae terjadi sebelum delegasi Korea Selatan yang dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri Pertama, Choi Jong-kun, tiba di Teheran pada 10 Januari untuk melakukan pembicaraan dengan pejabat senior Iran mengenai penyitaan dan masalah lainnya.


Foto: Yonhap


SEOUL, IPHEDIA.com - Korea Selatan telah memindahkan unit angkatan laut anti-pembajakannya yang beroperasi di dekat Selat Hormuz menjauh dari jalur air untuk menumbuhkan suasana positif menjelang negosiasi dengan Iran mengenai sebuah kapal tanker minyak yang disita dan para pelautnya, menurut sumber diplomatik, Senin.

Mundurnya Unit Cheonghae terjadi sebelum delegasi Korea Selatan yang dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri Pertama, Choi Jong-kun, tiba di Teheran pada 10 Januari untuk melakukan pembicaraan dengan pejabat senior Iran mengenai penyitaan dan masalah lainnya.

Korps Pengawal Revolusi Islam Iran menangkap MT Hankuk Chemi atas tuduhan pencemaran lingkungan pada 4 Januari. Kapal yang sedang dalam perjalanan dari Arab Saudi ke Uni Emirat Arab, membawa 20 awak, termasuk lima warga Korea.

"Untuk menciptakan suasana yang baik bagi perundingan, Unit Cheonghae, yang ditanggapi secara sensitif oleh Iran, dibawa pergi (dari selat)," kata sumber itu. "Itu adalah keputusan untuk mengirim sinyal persahabatan ke Iran sebelum negosiasi," tambahnya.

Seorang pejabat kementerian luar negeri di sini menolak untuk mengkonfirmasi mundurnya unit tersebut. "Kami meminta pengertian Anda, karena kami tidak dapat memastikan apa pun tentang operasi Unit Cheonghae," katanya tanpa menyebut nama.

Tak lama setelah penyitaan, Korea Selatan mengirim kapal perusak unit angkatan laut Choi Young seberat 4.400 ton ke perairan dekat Selat Hormuz. Duta Besar Iran, Saeed Badamchi Shabestari, dikatakan telah menyatakan ke Seoul ketidaksenangannya atas penempatan tersebut.

Pembicaraan pekan lalu untuk mengamankan pembebasan kapal yang disita berakhir dengan sedikit kemajuan, karena Teheran mengklaim penyitaan itu sepenuhnya merupakan masalah teknis yang tunduk pada peraturan hukum dan yudisial, meskipun Seoul mengupayakan solusi diplomatik.

Spekulasi telah bertahan bahwa penyitaan tersebut dapat dikaitkan dengan kemarahan Iran atas US $ 7 miliar yang dibekukan di Korea Selatan di bawah sanksi AS. Iran telah menyerukan akses ke aset yang dibekukan untuk membantu memerangi pandemi Covid-19.

Para pengamat mengatakan prospek pembebasan awal kapal dan pelaut tetap suram karena kepatuhan Iran pada proses peradilan hanya menyisakan sedikit ruang untuk solusi diplomatik.

Seorang pejabat kementerian luar negeri di Seoul pada Senin mengkonfirmasi bahwa Teheran membuat permintaan untuk menggunakan sebagian dari dana yang dibekukan untuk melunasi biaya keanggotaan PBB yang menunggak.

Iran mengatakan pihaknya memberikan saran ke Seoul tentang uang yang harus dibayarnya, menurut Kantor Berita Republik Islam (IRNA), melansir Yonhap.

"Benar bahwa (metode) telah diinginkan oleh pihak Iran. Kami sedang berkonsultasi dengan badan-badan pemerintah terkait kami dan pihak PBB untuk melihat opsi apa yang kami miliki," kata pejabat itu tanpa menyebut nama, tanpa menjelaskan lebih lanjut. (yhp/ip)


Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK

Back to Top