Rencana Besar Kim Jong Un Tumbuhkan Ekonomi Korea Utara Hadapi Kenyataan Pahit

Kim menyalahkan sanksi internasional serta krisis yang tidak terduga, termasuk pandemi virus corona dan bencana alam, karena mencegah pemerintah meningkatkan kehidupan masyarakat, sambil mengkritik pejabat atas kesalahan yang perlu diperbaiki.




SEOUL, IPHEDIA.com - Rencana ambisius baru Kim Jong Un untuk lima tahun ke depan ditujukan untuk mengembangkan ekonomi Korea Utara yang hancur, tetapi rencana tersebut mungkin goyah dalam menghadapi krisis besar yang telah menghentikan proyek pemimpin muda tersebut saat ini.

Dalam sambutan yang dirilis akhir pekan ini, Kim menyalahkan sanksi internasional serta krisis yang tidak terduga, termasuk pandemi virus corona dan bencana alam, karena mencegah pemerintah meningkatkan kehidupan masyarakat, sambil mengkritik pejabat atas kesalahan yang perlu diperbaiki.

Dia mengusulkan untuk mengurangi ketergantungan pada impor, menumbuhkan hampir setiap industri, dan mereformasi cara kerja pejabat.

Namun, rencana baru itu tidak mungkin untuk membalikkan pertumbuhan ekonomi Korea Utara yang semakin memburuk, sehingga menyulitkan Kim untuk memenuhi janji-janjinya yang tinggi dan berpotensi memotong sumber daya yang tersedia untuk proyek-proyek militer yang berharga, kata Chad O'Carroll, CEO Korea. Risk Group, yang memantau Korea Utara.

"(Tidak) ada minat yang jelas dalam reformasi, keringanan sanksi, atau pembukaan ekonomi," katanya dalam sebuah posting di Twitter.

Sejak Kim berkuasa pada tahun 2011, standar hidup meningkat bagi banyak orang Korea Utara karena pasar berkembang biak dan barang-barang konsumen menjadi lebih banyak tersedia. Tetapi sekarang negara ini menghadapi situasi yang paling menantang sejak kelaparan pada tahun 1990-an, dan proyek-proyek seperti resor wisata, zona ekonomi, dan rumah sakit besar tampaknya terhenti.

Keputusan Kim untuk mengadakan kongres besar dan membicarakan proyek-proyek ambisius dalam menghadapi kekurangan serius bagi banyak warga Korea Utara menunjukkan bagaimana pemerintah telah menginternalisasi propagandanya sendiri, kata Leif-Eric Easley, seorang profesor di Universitas Ewha di Seoul, melansir Reuters, Minggu.

“Kondisi ekonomi dan sosial negara lebih buruk daripada yang dihargai banyak orang luar,” katanya. "Kim memberi tahu orang-orangnya tentang kekurangan dalam negeri dan menjanjikan perbaikan tetapi kemungkinan besar tidak akan menyesuaikan kebijakan untuk menerima bantuan dan bantuan." (rts/ip)

 

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

Back to Top