-->

Polda Lampung Ungkap 1.881 Kasus Narkoba dan 2.580 Tersangka Sepanjang Tahun 2020

Dari ribuan tersangka tersebut disita barang bukti yang fantastis, yakni sebanyak 467 kg ganja, 201 kg sabu-sabu, 33.912 butir ekstasi, 885 butir obat-obatan ilegal, 310 gram tembakau gorila, hingga uang tunai Rp71.326.000.




BANDARLAMPUNG, IPHEDIA.com - Sepanjang tahun dari Januari hingga Desember 2020, Kepolisian Daerah (Polda) Lampung telah mengungkap sebanyak 1.881 kasus narkoba dan menetapkan 2.580 tersangka.

"Sebanyak 2.580 tersangka itu, terdiri dari pemakai, pengedar, hingga bandar," kata Wakapolda Lampung, Brigjen Pol Subiyanto, saat liris akhir tahun 2020 Polda Lampung, di Bandarlampung, Senin.

Ia mengatakan, dari ribuan tersangka tersebut disita barang bukti yang fantastis, yakni sebanyak 467 kg ganja, 201 kg sabu-sabu, 33.912 butir ekstasi, 885 butir obat-obatan ilegal, 310 gram tembakau gorila, hingga uang tunai Rp71.326.000.

Dari ribuan kasus ini ada delapan kasus yang menonjol, tujuh di antaranya ditangkap di Seaport Interdiction Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel).

Kedelapan kasus tersebut, yakni penangkapan Suhendra pada 16 Februari 2020 dengan barang bukti 19,7 kg sabu-sabu dan penangkapan Richard Riyaldi pada 8 Mei 2020 dengan barang bukti 66 kg sabu-sabu.

Kemudian, penangkapan Usman pada 17 Agustus 2020 dengan barang bukti 25 kg sabu-sabu dan penemuan 129 kg ganja tanpa pemilik pada 17 Agustus 2020

Selanjutnya, penangkapan Syahrizal pada 22 Sepetember 2020 dengan barang bukti 19,7 kg sabu-sabu dan penangkapan Hadi pada 13 Oktober 2020 dengan barang bukti 12 kg sabu-sabu.

Penangkapan Mahyunir pada 5 Desember 2020 dengan barang bukti berupa 45 kg sabu-sabu dan penemuan 15 kg sabu-sabu dan 7.585 butir ekstasi pada 3 November 2020 di Jalan Lintas Sumatera Desa Babatan, Katibung, Lampung selatan (non-Seaport Interdiction). (rz/ed/ip)

 

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).

TOPIK

Back to Top