Ngakunya Kesepian, Ayah Tega Mencabuli Anak Kandung

"Korban anak kandungnya sendiri," ujar Kapolsek Gunungsugih, Iptu Widodo Rahayu, SH., mewakili Kapolres Lampung Tengah, AKBP Popon Ardianto Sunggoro, S.Ik, SH.




GUNUNGSUGIH, IPHEDIA.com - Perbuatan ayah yang satu ini tak patut ditiru. Mengaku kesepian karena istrinya sudah meninggal, BJ (42) melampiaskan nafsu bejatnya dengan anak kandungnya sendiri.

"Korban anak kandungnya sendiri," ujar Kapolsek Gunungsugih, Iptu Widodo Rahayu, SH., mewakili Kapolres Lampung Tengah, AKBP Popon Ardianto Sunggoro, S.Ik, SH., Rabu.

Pelaku BJ warga Dusun I Kampung Rengas, Kecamatan Bekri, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung, yang mencabuli --sebut saja namanya Bunga (14), anak kandungnya ini, ditangkap polisi di tempat persembunyiannya di gubuk dalam kebun jagung Kampung Rengas Kecamatan Bekri, Minggu, 13 Desember 2020.

Dikatakan Iptu Widodo, penangkapan terhadap pelaku berawal dari bibi korban yang curiga melihat Bunga banyak murung dan menjadi pendiam. Dari kecurugaan itu, bibinya pun membujuk korban untuk berbicara terus terang apa yang terjadi.

Dengan rayuan bibinya lalu korban mau berterus terang dan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Setelah mendengarkan cerita korban bibinya langsung melaporkan kepada pamong setempat dan di lanjutkan melaporkan pencabulan ayah kandung tersebut ke Polsek Gunungsugih.

Kepada polisi, ayah bejat itu mengakui terakhir melakukan hubungan intim dengan anaknya pada Rabu, 9 Desember 2020 di kediaman pelaku karena korban masih satu rumah dengannya.

Pelaku tega melampiaskan nafsunya terhadap anak kandung karena kesepian setelah istrinya meninggal dunia dua tahun lalu. Bahkan, sebelumnya pelaku juga pernah melakukan perbuatan cabul terhadap anaknya di tahun 2018.

"Sebenarnya korban sudah menolak ajakan ayahnya. Namun, jika tidak mau menuruti ayahnya marah, menampar dan memukulnya," terang Widodo menurut pengakuan korban.

Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, pelaku dijerat dengan Pasal 76 D Jo 81 dan 76 E Jo 82 UU RI no 17 Tahun 2016 tentang penetapan pemerintah pengganti UU No 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman lebih lima tahun penjara. (Bi2t/Ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK


Back to Top