Serangan Roket Menyebabkan Kebakaran Kilang Minyak di Irak Utara

Api dipadamkan dan operasi dilanjutkan dalam beberapa jam setelah serangan itu, kata kementerian, mengutip Northern Refining Company milik negara yang menjalankan kilang.


Foto: Daily Herald

IRAK, IPHEDIA.com - Serangan roket di Irak utara telah menyebabkan kebakaran besar di kilang minyak, menghentikan sebentar operasi, kata kementerian perminyakan negara itu.

Api menghantam tangki penyimpanan bahan bakar di kilang kecil Siniya di provinsi Salahuddin pada Minggu waktu setempat. Tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa ini.

Api dipadamkan dan operasi dilanjutkan dalam beberapa jam setelah serangan itu, kata kementerian, mengutip Northern Refining Company milik negara yang menjalankan kilang.

Kelompok ISIL (ISIS) mengaku bertanggung jawab atas serangan roket tersebut. ISIL mengatakan di situsnya Amaq bahwa dua roket Katyusha digunakan dalam serangan itu, menurut laporan Al Jazeera.

Kilang Siniya berada di dekat kilang minyak terbesar Irak, Baiji, yang mengalami kerusakan cukup parah selama perang melawan kelompok ISIL. Kilang tersebut dirombak dan akhirnya dibuka kembali pada tahun 2017 setelah kekalahan grup.

Meskipun ISIL tidak lagi menguasai wilayah di Irak, kelompok tersebut mempertahankan sel tidur dan sering melakukan serangan di seluruh bagian negara, termasuk utara.

Kelompok bersenjata yang didukung Iran juga diyakini berada di balik serangkaian serangan roket dan mortir yang menargetkan kepentingan AS di Irak.

Para pejabat mengatakan penghentian operasi di kilang Siniya, yang memiliki kapasitas penyulingan 30.000 barel per hari, adalah langkah pengamanan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

"Kami benar-benar menutup unit produksi untuk menghindari kerusakan parah yang dapat terjadi," kata seorang insinyur kepala di kilang tersebut, berbicara kepada Kantor Berita Reuters tanpa menyebut nama.

Serangan Minggu menandakan bahwa pejuang ISIS mungkin masih mampu melancarkan serangan terhadap pasukan keamanan dan situs energi vital, meski dikalahkan selama kampanye militer yang didukung Amerika Serikat pada 2014-2017.

Awal bulan ini, AS mengumumkan akan mengurangi lebih lanjut jumlah pasukan yang ditempatkan di Timur Tengah, menyebabkan kekhawatiran di kalangan analis yang khawatir langkah seperti itu mungkin merugikan negara-negara seperti Irak.

Penjabat Menteri Pertahanan AS, Christopher Miller, mengatakan Trump telah memutuskan untuk mengurangi kehadiran pasukan AS di Afghanistan dan Irak menjadi 2.500 masing-masing pada 15 Januari 2021. (alj/ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK


Back to Top