PWI Lampung Kecam Arogansi Wali Kota Bandarlampung Herman HN

"Jangan takut dengan ancaman, tugas kita (wartawan, red) memberitakan kejadian dan konfirmasi kepada narasumber," kata Supriyadi Alfian.


Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Lampung, Supriyadi Alfian

BANDARLAMPUNG, IPHEDIA.com - Mengecam arogansi Wali Kota Bandarlampung, Herman HN, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Lampung siap berada di depan untuk mendampingi wartawan yang teraniaya.

Hal itu ditegaskan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Lampung, Supriyadi Alfian. "Jangan takut dengan ancaman, tugas kita (wartawan, red) memberitakan kejadian dan konfirmasi kepada narasumber," kata Supriyadi Alfian, di Bandarlampung, Senin.

Dia mengatakan, sikap wali kota mengancam saat dikonfirmasi tidak dapat dibenarkan. "Sebagai pejabat publik, seharusnya memberikan contoh yang baik. Bukannya bertindak semaunya sendiri," ujar Bang Yadi, sapaan akrab Ketua PWI Lampung itu.

Menurut dia, seorang pejabat memang memiliki hak untuk tidak menjawab pertanyaan wartawan, namun bukannya harus menjadi anti kritik.

"Saat dikonfirmasi oleh wartawan harusnya memberikan jawaban yang baik, bukan ditanggapi dengan pengancaman memecahkan kepala. Itu namanya pemimpin arogan," tegas Bang Yadi.

Sebelumnya, Wali Kota Bandarlampung, Herman HN, mengamuk dan mengancam akan memecahkan kepala wartawan.

Kejadian itu bermula saat beberapa wartawan mewawancarainya usai mengikuti sidang paripurna di DPRD Kota Bandarlampung, Senin.

Awalnya, Herman menjawab satu persatu pertanyaan wartawan dengan lancar. Hingga akhirnya, Dedi wartawan Lampung Televisi (TV) mengajukan pertanyaan menohok.

Dedi mempertanyakan sikap Herman yang terkesan membela Kepala Bappeda Khaidarmansyah yang ikut mensosialisasikan calon walikota nomor urut 03. Padahal, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) dilarang terlibat dalam politik.

Dedi menganggap, keterangan Khaidar saat diperiksa Bawaslu berbeda dengan keterangan saat dipanggil hearing di DPRD Bandarlampung.

Menanggapi pertanyaan itu, Herman mengaku jika hal itu tidak perlu dipersoalkan lagi karena Khaidar sudah dipanggil dan diperiksa Bawaslu dan Inspektorat.

“Ya beliau sudah dipanggil Inspektorat, ya itulah jawabannya, kamu jangan ngaco-ngaco lah, Lampung TV, saya tahu kamu, jangan ngaco-ngaco berita yang benar,” katanya.

Tak puas dengan jawaban itu, Dedi kembali bertanya. Apakah karena Kepala Bappeda mendukung Eva Dwiana sehingga Herman tidak memberi sanksi.

“Kamu jangan ngaco dengar nggak, Inspektorat sudah meriksa, Bawaslu sudah meriksa. Jangan ngaco kamu. Kamu sangka saya takut sama kamu, seenak-enaknya. Beritain lah kalau nggak pecahin kepala kamu, kamu belum tau saya ya,” kata Herman. (rls/bi2t/red)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).

TOPIK

Back to Top