Polrestabes Surabaya Bongkar Komplotan Pengedar Uang Palsu Senilai Rp16 Miliar

Wakapolrestabes Surabaya, AKBP Hartoyo mengatakan, pengungkapan kasus ini setelah dilakukan penyelidikan selama sebulan. Berawal dari penangkapan tersangka pada 25 September 2020 di Surabaya, sehingga para pelaku lainnya bisa ditangkap dari berbagai daerah.




SURABAYA, IPHEDIA.com - Jajaran Polrestabes Surabaya, Provinsi Jawa Timur (Jatim), kembali mengungkap komplotan kejahatan peredaran uang palsu. Komplotan ini mencetak dan berusaha mengedarkan uang palsu senilai Rp16 Miliar.

Wakapolrestabes Surabaya, AKBP Hartoyo mengatakan, pengungkapan kasus ini setelah dilakukan penyelidikan selama sebulan. Berawal dari penangkapan tersangka pada 25 September 2020 di Surabaya, sehingga para pelaku lainnya bisa ditangkap dari berbagai daerah.

“Dari pengembangan dapat diamankan 11 tersangka. Mereka memproduksi dan mengedarkan uang palsu,” ujar AKBP Hartoyo, Kamis.

Modus operandi para komplotan ini berawal dari tersangka SGY yang pada awal November 2019 berencana memproduksi uang palsu. Lalu, SGY menghubungi SYF untuk mencari rumah kontrakan di Jombang sebagai tempat percetakannya. Selain SYF, kemudian SGY melibatkan temannya lagi HRDS untuk menyiapkan gambar/sablon.

“Selanjutnya bulan April 2020 mulai membeli mesin berikut peralatan lainnya untuk mencetak uang palsu secara bertahap. Menurut mereka biaya pengadaan mesin menghabiskan biaya kurang lebih sebesar Rp 100 juta,” jelas AKBP Hartoyo.

Dengan dibantu dua orang tersangka, pada Mei 2020, tersangka SGY mulai mencetak uang palsu pecahan Rp 100.000 sejumlah Rp10 Miliar. Dalam pengedaran uang palsu itu, tersangka SGY bekerja sama dengan tersangka lainnya dari berbagai daerah.

Tersangka NSTM di Jakarta diminta mengedarkan uang palsu sebanyak Rp1 Miliar, tersangka SMJ dan SMD di Jombang sebesar Rp1 Miliar. Uang tersebut oleh SMJ diserahkan kepada tersangka SIS sebesar Rp400.000.000 dan tersangka AG di Mojokerto Rp23,000.000.

Kemudian, tersangka UW di Jl. Bukit Palma Surabaya Rp6.000.000, tersangka OLN di Lamongan Rp10.000.000, tersangka HD dan ED di Bungurasih Rp14.000.000, dan tersangka MSTF di Sidoarjo Rp10.000.000.

“Menurut rencana mereka, uang palsu tersebut akan diedarkan dengan cara memasukkan ke dalam mesin ATM. Ada juga yang dibelanjakan namun belum ada yang berhasil,” papar AKBP Hartoyo.

Lebih lanjut AKBP Hartoyo mengatakan, dari hasil uang dicetak sebesar Rp10 Miliar itu termasuk yang belum dipotong-potong senilai Rp6.693.000.000. Para tersangka disangkakan melanggar Pasal 37 Jo Pasal 27 UU RI No.7 Tahun 2011 tentang mata uang dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. (Sugeng P/Ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).

TOPIK

Back to Top