Mantan Gerilyawan FARC di Kolombia Tuntut Diakhirinya Pembunuhan

Pembunuhan 236 mantan anggota FARC yang didemobilisasi sejak penandatanganan kesepakatan damai 2016 telah menjadi rintangan utama bagi implementasi perjanjian yang mengakhiri peran kelompok tersebut dalam lebih dari lima dekade konflik yang telah menewaskan 260.000 orang dan jutaan orang terlantar.




BOGOTA, IPHEDIA.com - Ratusan mantan anggota kelompok pemberontak FARC yang didemobilisasi berunjuk rasa di ibu kota Kolombia, Bogota, menuntut lebih banyak keamanan, penerapan kesepakatan damai 2016, dan diakhirinya pembunuhan mantan kombatan.

Sembari mengibarkan bendera putih dan Kolombia, mantan anggota Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) tiba di Bogota pada Minggu waktu setempat sebagai bagian dari ziarah untuk hidup dan perdamaian.

Pembunuhan 236 mantan anggota FARC yang didemobilisasi sejak penandatanganan kesepakatan damai 2016 telah menjadi rintangan utama bagi implementasi perjanjian yang mengakhiri peran kelompok tersebut dalam lebih dari lima dekade konflik yang telah menewaskan 260.000 orang dan jutaan orang terlantar.

Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyatakan keprihatinannya atas pembunuhan mantan FARC setelah kesepakatan damai, yang memungkinkan sekitar 13.000 anggota kelompok pemberontak kiri untuk didemobilisasi.

“Kami meletakkan senjata kami dengan percaya pada janji-janji negara, namun hingga saat ini 236 rekan kami telah terbunuh di berbagai bagian negara,” kata senator Carlos Antonio Lozada dari Revolutionary Alternative Common Force, partai politik yang lahir dari kesepakatan damai yang mempertahankan akronim FARC kelompok pemberontak, melansir Reuters.

Lozada menuntut jaminan penuh untuk reintegrasi sosial dan ekonomi dari para pemberontak yang didemobilisasi, menambahkan bahwa negara berkewajiban untuk melindungi hidup mereka.

Pemerintah Presiden Ivan Duque mengatakan pihaknya berkomitmen pada kesepakatan damai, menyalahkan para pembangkang FARC yang menolak perjanjian 2016, serta kelompok bersenjata ilegal lainnya yang terlibat dalam perdagangan narkoba dan penambangan ilegal, karena membunuh mantan anggota gerilyawan FARC.

Pastor Alape, mantan komandan pemberontak FARC dan negosiator perdamaian, menyalahkan kekuatan yang diuntungkan dari perang dan kekerasan atas pembunuhan mantan gerilyawan. Dia meminta pemerintah untuk investasi sosial yang lebih besar dan kehadiran militer yang lebih rendah di daerah-daerah yang terkena dampak kekerasan. (rts/ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).

TOPIK

Back to Top