Aksi Protes di Belarusia, Lebih dari 200 Orang Ditangkap

Para penentang Presiden Alexander Lukashenko melakukan protes rutin sejak Agustus, menuduhnya mencurangi pemilihan untuk memperpanjang cengkeraman 26 tahun kekuasaannya. Dia membantah penipuan pemilu dan menolak untuk mengundurkan diri.


Foto: CNN

MINSK, IPHEDIA.com - Polisi Belarusia telah menangkap lebih dari 200 orang di ibu kota, Minsk, selama protes anti-pemerintah terbaru yang dipicu oleh sengketa pemilihan presiden pada bulan Agustus, kata aktivis hak asasi manusia.

Ribuan orang turun ke jalan pada Minggu waktu setempat, dan polisi menggunakan granat kejut untuk membubarkan massa, menurut laporan beberapa media Belarusia. Sementara, kelompok hak asasi Vesna-96 mengatakan 205 orang telah ditahan sejauh ini.

Kementerian dalam negeri kemudian mengkonfirmasi bahwa telah ada penangkapan. Mereka yang ditahan dianggap mengganggu ketertiban umum dan melawan petugas polisi, tetapi tidak menyebutkan jumlahnya.

Para penentang Presiden Alexander Lukashenko melakukan protes rutin sejak Agustus, menuduhnya mencurangi pemilihan untuk memperpanjang cengkeraman 26 tahun kekuasaannya. Dia membantah penipuan pemilu dan menolak untuk mengundurkan diri.

Orang-orang pertama kali berkumpul di daerah pemukiman di Minsk dan kemudian membentuk pawai protes, membawa bendera putih-merah-putih bersejarah, mengikuti instruksi dari penyelenggara protes untuk mempersulit polisi dalam mengendalikan massa.

Alun-alun besar ibu kota ditutup dengan batang logam, seperti yang ditunjukkan gambar yang dibagikan di saluran berita Telegram. Ratusan pasukan keamanan, termasuk anggota militer, berkumpul di Minsk, dengan pengangkut tahanan, meriam air, dan alat berat lainnya telah siap.

Pihak berwenang juga membatasi layanan internet seluler dan memblokir beberapa stasiun metro untuk mencegah pertemuan massal. Pawai pada Minggu yang dinamakan "Pawai Melawan Fasisme" ini tanggapan dari penyelenggara terhadap penghinaan baru-baru ini oleh Lukashenko bahwa mereka fasis.

“Saya tidak dapat menerima apa yang sedang terjadi saat ini,” kata seorang pengunjuk rasa, ilmuwan komputer berusia 22 tahun, Olga Matchits, kepada kantor berita AFP.

"Mereka ingin menyeret martabat kami ke dalam lumpur," kata pengunjuk rasa lainnya, Alexandre Ignatov, 72 tahun. “Ini demi harga diri saya, untuk masa depan anak-anak saya,” tambahnya, melansir Aljazeera. (alj/ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).

TOPIK

Back to Top