Dugaan Ekspor Ikan Fiktif Rugikan Negara Rp8,029 Miliar, Kejari Sidoarjo Tahan Dirut PT Puspo Agro

Keduanya terbelit kasus dugaan jual beli ikan fiktif yang dilakukan anak perusahaan PT Puspa Agro bersama CV Aneka House senilai Rp8,029 miliar. Kegiatan jual beli itu juga dilakukan tidak berdasarkan uji kelayakan.




SIDOARJO, IPHEDIA.com - Kejari Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, menahan Direktur Utama PT Puspa Agro, Abdullah Muchibuddin, dan anak buahnya di bagian trading, Heri Djamari, dalam kasus dugaan ekspor fiktif jenis ikan yang merugikan negara Rp8,029 miliar.

Kedua tersangka dinilai melanggar Pasal 2 dan 3 junto 55 KUHP tentang tindak pidana korupsi yang merugikan keuangan negara. Keduanya diancam hukuman penjara minimal empat tahun dan maksimal 20 tahun.

"Kedua tersangka, yakni mantan Direktur Utama PT Puspa Agro Abdullah Muhibuddin dengan staff trading PT Puspa Agro Hery Jamari," kata Kasie Intelijen Kejari Sidoarjo, Idham Kholid, Sabtu.

Idham menambahkan, keduanya terbelit kasus dugaan jual beli ikan fiktif yang dilakukan anak perusahaan PT Puspa Agro bersama CV Aneka House senilai Rp 8,029 miliar. Kegiatan jual beli itu juga dilakukan tidak berdasarkan uji kelayakan.

"Jual belinya fiktif, tapi pembayarannya jalan terus. Keduanya dipanggil sebagai saksi, setelah dilakukan pemeriksaan selama 6 jam baru ditahan," tambah Idham.

Idham menerangkan, proses jual beli ikan tersebut dilakukan sebanyak tujuh kali lebih yang dimulai sejak Juni hingga November di tahun 2015. Mereka beralasan jual beli ikan tersebut untuk eksportir.

"Setelah kami tindak lanjuti ke pihak berwenang (bea cukai) ternyata tidak ada kegiatan ekspor impor itu. Bahkan alasan tempat pelelangan dilakukan di Prigi Trenggalek, dan Paciran- Lamongan, kita cek ke sana semuanya fiktif," terang Idham.

Idham menjelaskan, pihaknya masih mendalami keterlibatan pihak lain dalam kasus tersebut. Penahanan kedua tersangka dilakukan atas dugaan tindak pidana korupsi sebagaimana pasal 2 dan 3 juncto 55 KUHP. Usai diperiksa, mereka langsung ditahan di Rutan Kejati Jatim.

"Akibat perbuatannya, tersangka terancam pidana minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun penjara," tandas Idham. (Sugeng P/Ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).

TOPIK

Back to Top