Demo Tolak UU Cipta Kerja Ricuh, Presiden BEM Unila: Tak Ada Mahasiswa yang Meninggal

Dalam bentrokan dengan aparat saat aksi demo penolakan UU Cipta Kerja kemarin, ia mengakui memang ada beberapa mahasiswa yang mengalami luka-luka dan dirawat di sejumlah rumah sakit di Bandarlampung namun tidak ada yang meninggal.


Aksi demo menolak UU Cipta Kerja di kantor DPRD Provinsi Lampung, Rabu (Foto: Dok IPHEDIA.com)


BANDARLAMPUNG, IPHEDIA.com - Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Lampung (BEM Unila), Irfan Fauzi Rachman mengatakan, saat terjadi kericuhan dalam aksi demo menolak UU Cipta Kerja di kantor DPRD Provinsi Lampung, Rabu, tak ada mahasiswa yang meninggal seperti yang diberitakan.

"Tidak ada mahasiswa yang meninggal, berita itu tak benar," kata Irfan Fauzi Rachman, kepada awak media, saat aksi demonstrasi mahasiswa bersama ratusan buruh menolak UU Cipta Kerja di Tugu Adipura Bandarlampung, Kamis.

Dalam bentrokan dengan aparat saat aksi demo penolakan UU Cipta Kerja kemarin, ia mengakui memang ada beberapa mahasiswa yang mengalami luka-luka dan dirawat di sejumlah rumah sakit di Bandarlampung namun tidak ada yang meninggal.

Ia menyebut, bentrokan yang terjadi bukan dipelopori mahasiswa tetapi ada penyusup yang memanfaatkan situasi aksi sehingga memunculkan kericuhan. "Dugaan kami ada penyusup sehingga menimbulkan chaos," katanya.

Meski demikian, kata dia, mahasiswa bersama ratusan buruh akan terus menyuarakan penolakan UU Cipta Kerja karena akan merugikan kalangan buruh. "Hari ini kami bersama ratusan buruh melakukan aksi penolakan UU Cipta Kerja," ujarnya.

Sementara itu di tempat terpisah, terkait aksi penolakan Omnibus Law UU Cipta Kerja yang berujung ricuh, para rektor perguruan tinggi di Provinsi Lampung yang tergabung dalam Forum Rektor menyatakan sikap dan mengaku prihatin atas kericuhan itu.

"Ada clash antara mahasiswa dan aparat, mudah-mudahan tidak terulang lagi," kata Rektor Unila, Prof Karomani, didampingi beberapa rektor lainnya, di Mapolda Lampung, Kamis.

Menurut dia, aksi demonstrasi atau penyampaian aspirasi sebenarnya memang diatur dalam konstitusi, dan hak warga negara. Tapi, ia menyayangkan dalam aksi tersebut terjadi anarkis.

Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi, bersama dengan jajaran Forkompinda Provinsi Lampung juga menyatakan sikap dan prihatin terkait kericuhan pada aksi penolakan Omnibus Law di Lampung.

"Saya kaget ada reaksi oknum-oknun mahasiswa mengatasnamakan buruh, dan seolah-olah membaca secara utuh undang-undang (Omnibus Law)," ujar Gubernur Arinal Djunaidi, di Polda Lampung, Kamis.

Arinal mengajak seluruh masyarakat di Provinsi Lampung untuk menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan serta berharap jangan sampai ada cluster Covid-19 baru melalui pengumpulan massa.

Sebelumnya, pihak kampus Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya angkat bicara terkait informasi beredar adanya korban jiwa mahasiswa IIB Darmajaya dalam aksi demo Cipta Kerja di kantor DPRD Lampung.

Rektor IIB Darmajaya, Ir Firmansyah Alfian MBA, MSc kepada wartawan menyatakan, informasi yang menyebutkan ada mahasiswa Darmajaya meninggal dunia dalam aksi itu merupakan informasi yang tidak benar.

Menurutnya, dari hasil komunikasi dengan wakil rektor dan jajaran, memang ada mahasiswa, termasuk IIB Darmajaya yang menjadi korban. Namun, tidak ada yang meninggal dunia.

“Saya mendapat informasi ada kurang lebih 12 orang anak-anak kita (mahasiswa lintas kampus) yang menjadi korban dan dirawat di rumah sakit. Tapi, tidak ada korban jiwa. Jadi informasi tersebut saya pastikan hoaks,” jelasnya.

Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad mengatakan, info adanya korban meninggal dunia akibat aksi unjuk rasa Undang-Undang (UU) Cipta Kerja di Lampung adalah hoaks.

"Tidak ada mahasiswa yang meninggal dunia. Ada beberapa mahasiswa yang mengalami luka ringan, dan dilarikan ke beberapa rumah sakit," ujar Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad, di Bandarlampung, Rabu.

Ia menyebut, korban luka dilarikan ke RSUD Dr A Dadi Tjokrodipo, RS Bhayangkara, dan RS Bumi Waras untuk diberikan tindakan pengobatan dan setelah itu ada yang kembali ke rumah masing-masing. Jumlah mahasiswa yang mengalami luka sebanyak 26 orang, sebagian besar terkena gas air mata dan luka lecet.

Para korban luka berasal dari Universitas Muhammadiyah Metro, Universitas Malahayati, Politeknik Negeri Lampung, Universitas Teknokrat Indonesia (UTI), Universitas Islam Negeri (UIN) Radin Inten, dan Universitas Bandar Lampung (UBL).

Dari 26 mahasiswa, 20 kembali ke kediaman masing-masing, dan enam mahasiswa masih dalam perawatan. Selain mahasiswa, juga terdapat 11 personel Polri dan satu personel TNI yang mengalami luka-luka. (*/Ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).

TOPIK

Back to Top