Penembak di Masjid Selandia Baru Habiskan Waktu Bertahun-tahun Siapkan Serangan

Warga Australia, Brenton Tarrant (29), telah mengaku bersalah atas 51 dakwaan pembunuhan, 40 dakwaan percobaan pembunuhan, dan satu dakwaan melakukan tindakan teroris.

Brenton Tarrant (tengah) (Foto: Doc Reuters via IPHEDIA.com)

WELLINGTON, IPHEDIA.com - Pria yang menewaskan 51 orang di dua masjid di Selandia Baru pada 2019 dengan cermat merencanakan penembakannya yang mengamuk untuk memaksimalkan korban, kata seorang jaksa penuntut pada awal sidang hukuman pada Senin (24/8/2020).

Warga Australia, Brenton Tarrant (29), telah mengaku bersalah atas 51 dakwaan pembunuhan, 40 dakwaan percobaan pembunuhan, dan satu dakwaan melakukan tindakan teroris sehubungan dengan pembantaian di kota Christchurch yang dia siarkan langsung di Facebook.

Dia menghadapi hukuman penjara seumur hidup, mungkin tanpa pembebasan bersyarat dalam apa yang akan menjadi yang pertama bagi Selandia Baru, ketika hakim Pengadilan Tinggi menjatuhkan hukumannya akhir pekan ini.

Diborgol dan didandani dengan pakaian penjara abu-abu, Tarrant duduk dengan tangan tergenggam untuk sebagian besar acara pagi itu. Dia menunjukkan sedikit emosi, dan melihat langsung pada mereka yang menyampaikan pernyataan dampak korban.

Jaksa penuntut Barnaby Hawes menyebut, Tarrant mengatakan kepada polisi setelah penangkapannya bahwa dia ingin menciptakan ketakutan di antara populasi Muslim.

“Dia bermaksud untuk menanamkan rasa takut pada orang-orang yang dia gambarkan sebagai penjajah, termasuk populasi Muslim atau lebih umumnya imigran non-Eropa,” kata Hawes, melansir Reuters.

Penembak menghabiskan waktu bertahun-tahun membeli senjata api bertenaga tinggi, meneliti tata letak masjid dengan menerbangkan drone di atas target utamanya, dan mengatur waktu serangan 15 Maret untuk memaksimalkan korban, kata jaksa penuntut.

Penembak pergi ke Christchurch sekitar dua bulan sebelum serangan dan menerbangkan drone langsung di atas masjid Al Noor, dengan fokus pada titik masuk dan keluarnya.

Sementara sebagian besar korban Tarrant berada di masjid Al Noor, dia menyerang masjid kedua sebelum ditahan dalam perjalanan ke masjid ketiga.

Serangan tersebut memicu pencurahan kesedihan dan pengawasan global, dengan peraturan yang diberlakukan pada platform online setelah pria berusia 28 tahun itu menyiarkan langsung penembakan di masjid tak lama setelah mengunggah manifesto. (rts/ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).

TOPIK

Back to Top