Bentrokan Suku Tewaskan Puluhan Orang, Sudan Tingkatkan Keamanan Kota dan Pelabuhan

Pasukan keamanan menangkap 85 orang karena kekerasan baru-baru ini, yang juga menyebabkan 98 orang terluka. Pemerintah setempat memberlakukan jam malam di Port Sudan untuk memulihkan ketertiban.

Foto: The New York Times

KHARTOUM, IPHEDIA.com - Sudan meningkatkan keamanan di negara bagian Laut Merah dan memberlakukan jam malam di gerbang laut utamanya di Port Sudan setelah 32 orang tewas dalam bentrokan suku baru-baru ini, kata kementerian dalam negeri negara itu pada Rabu malam (12/8/2020) waktu setempat.

Sudan berada satu tahun dalam transisi tiga tahun setelah penggulingan mantan Presiden Omar al-Bashir dan menghadapi tantangan termasuk ketidakamanan yang membara di beberapa kawasan dan krisis ekonomi yang parah.

Pasukan keamanan menangkap 85 orang karena kekerasan baru-baru ini, yang juga menyebabkan 98 orang terluka. Pemerintah setempat memberlakukan jam malam di Port Sudan untuk memulihkan ketertiban, kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan. Korban termasuk anggota pasukan keamanan.

Laporan media lokal dan aktivis di media sosial mengatakan, bentrokan terjadi antara suku Beni Amer dan suku Nuba yang memiliki sejarah kekerasan timbal balik. Perwakilan dari kedua suku tersebut menandatangani kesepakatan rekonsiliasi pada September tahun lalu setelah bentrokan mematikan.

Pemerintah telah mengerahkan lebih banyak pasukan keamanan ke negara bagian untuk memaksakan prestise negara dan supremasi hukum, dan untuk memperkuat keamanan dan stabilitas, kata kementerian dalam negeri, melansir Reuters, Kamis (13/8/2020).

Langkah-langkah keamanan telah membantu menstabilkan situasi dan menyebabkan "ketenangan hati-hati," tambahnya. Port Sudan juga digunakan oleh Sudan Selatan untuk mengekspor minyak.

Perdana Menteri Abdalla Hamdok mengatakan dalam pernyataan sebelumnya bahwa dia telah mengadakan beberapa pertemuan selama sepekan terakhir dengan para pemimpin komunitas dan politik dari Sudan timur untuk membahas situasi politik, keamanan dan kekerasan di wilayah tersebut.

Hamdok memimpin pemerintahan sipil transisi di bawah kesepakatan pembagian kekuasaan tiga tahun dengan militer. (rts/ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).

TOPIK

Back to Top