Francois Bozize Pemimpin CAR yang Digulingkan Calonkan Diri Jadi Presiden

Mantan Presiden Republik Afrika Tengah, Francois Bozize (Foto: Reuters via Aljazeera)

BANGUI, IPHEDIA.com - Mantan Presiden Republik Afrika Tengah yang digulingkan, Francois Bozize, pada Sabtu (25/7/2020) waktu setempat mengumumkan pencalonannya untuk pemilihan presiden pada Desember mendatang meskipun berada di bawah sanksi PBB dan dikenakan surat perintah penangkapan untuk dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Dia membuat pengumuman dalam pidatonya di depan banyak pendukung di sebuah kongres partainya, Kwa na Kwa (Bekerja, Tidak Ada Kerja) di ibukota Bangui. Mantan panglima militer dan jenderal Angkatan Darat berusia 73 tahun itu digulingkan dalam pemberontakan 2013.

"Negara ini membutuhkan orang yang berpengalaman, damai dan penuh keyakinan," kata Bozize dalam pidatonya yang mengkritik masa jabatan presiden saat ini, Faustin-Archange Touadera, seperti melansir Aljazeera, Minggu (26/7/2020).

Bozize pertama kali mengambil alih kekuasaan setelah kudeta tahun 2003 dan menjabat 10 tahun sebagai presiden sebelum melarikan diri dari negara itu pada 2013.

Pemerintahan baru meminta penangkapannya atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan dan hasutan untuk melakukan genosida, tetapi belum pindah untuk menangkapnya sejak ia kembali dari pengasingan tahun lalu. Tidak jelas bagaimana surat perintah atau sanksi asing akan mempengaruhi pencalonannya.

Pada bulan Januari, Bozize mengatakan ia akan meminta PBB untuk mencabut sanksi yang diberlakukan pada 2014 atas dugaan dukungannya terhadap kelompok-kelompok bersenjata.

Lawan politik Bozize, Touadera yang memerintah saat ini mendapat dukungan operasi penjaga perdamaian PBB yang besar dengan lebih dari 13.000 tentara dan polisi.

Touadera terpilih pada 2016 dan diharapkan untuk masa jabatan kedua dalam pemilihan, tetapi sejauh ini ia belum mengkonfirmasi akan mencalonkan diri. Babak pertama pencalonan presiden dijadwalkan pada tanggal 27 Desember.

Pemerintah menandatangani perjanjian damai pada Februari 2019 dengan 14 kelompok bersenjata, yang biasanya mengklaim membela kepentingan komunitas atau agama tertentu.

Sejak itu kekerasan pada umumnya sudah surut, tetapi masih ada insiden berdarah, yang biasanya dipicu oleh perebutan sumber daya dan sebagian besar negara kaya berlian itu masih di luar kendali pemerintah. Kekerasan telah memaksa lebih dari 1,5 juta orang meninggalkan rumah mereka. (alj/ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write Komentar

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Berkomentarlah dengan nama yang jelas dan bukan spam agar tidak dihapus. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) maupun perundang-undangan yang berlaku.

TOPIK


Back to Top