Dua Sopir Kapal Penumpang Antarpulau Ilegal Diamankan Polisi



MENTOK, IPHEDIA.com - Di tengah larangan mudik guna memutus rantai penyebaran Covid-19, sebanyak dua orang yang diduga menjadi sopir kapal cepat mini angkutan penumpang antarpulau yang tidak memiliki izin usaha diamankan jajaran Kepolisian Resor (Polres) Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

"Dua orang pelaku dan dua unit kapal cepat mini kami amankan," kata Kapolres Bangka Barat, AKBP Muhammad Adenan, di Mentok, Selasa (28/4/2020).

Kedua pelaku Darmawan bin Oman (56) sopir kapal cepat mini Heryadi, dan Jhon Jeni (46) sopir kapal cepat mini Putra Asmara, keduanya warga Sungsang, Banyuasin, Sumatera Selatan, ditangkap polisi perairan saat sedang patroli rutin di perairan Karangaji Mentok, Bangka Belitung, pada Minggu (26/4/2020).

Saat itu, tim patroli menghentikan kapal cepat mini (speed lidah) bernama Heryadi yang disopiri Darmawan yang mengangkut enam orang penumpang dan satu kondektur. Speed lidah dihentikan saat sedang melakukan perjalanan mengantarkan penumpang dari Sungsang, Banyuasin dengan tujuan Pelabuhan Mentok.

Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut diketahui angkutan itu tidak memiliki izin usaha angkutan perairan dan di dalam kapal speed lidah tersebut tanpa dilengkapi alat-alat keselamatan yang sesuai prosedur.

Sopir kapal bernama Darmawan ditangkap bersama satu unit kapal miliknya dan para penumpang dibawa ke kantor Satuan Polair Polres Bangka Barat guna dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Pada patroli berikutnya, kembali didapatkan satu unit kapal cepat mini lain yang melakukan aktivitas sejenis di perairan ini yang disopiri Jhon Jeni alias Jeni bin Muhamad Umar yang sedang membawa empat orang penumpang dari arah Sungsang, Banyuasin, Sumsel, menuju Pelabuhan Mentok, Babel.

Kapal bernama Putra Asmara milik Jhon Jeni itu juga tidak memiliki izin resmi dari instansi pemerintah terkait usaha angkutan laut dan terpaksa digiring menuju Kantor Satpolair Polres Bangka Barat.

Dua orang pelaku diduga melanggar Pasal 287 Undang Undang RI Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran karena mengoperasikan kapal angkutan di perairan tanpa izin usaha, dengan ancaman pidana paling lama satu tahun atau denda Rp200.000.

Kepada polisi, kedua pelaku mengaku melakukan pengangkutan penumpang dari Sungsang menuju Mentok dengan imbalan sebesar Rp1.500.000 per perjalanan. Dalam dua kasus ini polisi menyita sejumlah barang bukti, berupa dua unit kapal mini cepat bermesin tempel 40PK, uang tunai Rp1.950.000 dan satu buah jerigen BBM berisi 30 liter bensin. (ris/ip)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).

TOPIK

Back to Top