Rokok Salah Satu Penyumbang Inflasi Kota Palembang di Atas Angka Nasional

Kepala BPS Sumatera Selatan, Endang Tri Wahyuningsih

PALEMBANG, IPHEDIA.com - Pada Januari 2020, Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, mengalami inflasi sebesar 0,62 persen atau lebih tinggi dari nasional.

“Rokok jadi salah satu penyumbang inflasi di samping ada pula kenaikan sejumlah bahan makanan, seperti cabai merah dan bawang merah,” ujar Kepala BPS Sumatera Selatan, Endang Tri Wahyuningsih, di Palembang, Senin (4/2/2020).

Ia mengatakan, komoditas rokok menempati peringkat kedua penyumbang inflasi di kota itu. Kenaikan harga rokok sebesar 4,98 persen memiliki andil inflasi sebesar 0,07 persen.

Tercatat 114 dari 386 komoditas yang dipantau BPS mengalami kenaikan harga, sementara 44 komoditas lainnya menurun. Tingginya inflasi Sumsel ini tidak terlepas dari kondisi selepas momen Tahun Baru, yang biasanya terjadi peningkatan harga untuk sejumlah komoditas.

Sementara, Asisten Direktur Kepala Tim Bank Indonesia Perwakilan Sumsel, Wahyu Yuwana menyebutkan, kenaikan harga rokok merupakan dampak dari naiknya cukai rokok yang diatur pemerintah.

“Kondisi itu bertepatan dengan naiknya cukai rokok dan harga jual eceran rokok sehingga berpengaruh terhadap inflasi,” katanya. 

Dijelaskannya, tren inflasi di Palembang maupun Sumatera Selatan sebetulnya yang perlu menjadi perhatian pemerintah daerah adalah pergerakan harga bahan pangan.

"Faktor terbesar itu di cabai dan bawang merah. Perkembangan harga itu tidak terlepas dari kondisi cuaca yang berpengaruh terhadap produksi pertanian,” ujar Wahyu Yuwana.

Karenanya, menurut dia, pemda perlu fokus terhadap komoditas volatile foods. Salah satu strategi yang perlu diterapkan untuk menjaga permintaan dan pasokan adalah hilirisasi.

“Mau tidak mau hilirisasi jadi lebih penting karena ketika ada kelangkaan stok kita punya simpanan dalam bentuk komoditas yang sudah diolah,” jelasnya. (*)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).

TOPIK

Back to Top