Polda Sumsel Fokus Berantas Empat Aksi Kejahatan

Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Pol Supriadi

PALEMBANG, IPHEDIA.com - Karena berpotensi menimbulkan keresahan masyarakat dan merugikan keuangan negara, Kepolisan Daerah (Polda) Sumatera Selatan berupaya fokus pada pemberantasan empat aksi kejahatan.

Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Pol Supriadi mengatakan, keempat aksi kejahatan itu, seperti aksi kejahatan konvensional, transnasional, korupsi, dan kejahatan konvergensi/penggabungan aksi kejahatan.

"Ada empat aksi kejahatan yang menjadi fokus pemberantasan," kata Kombes Pol Supriadi, di Palembang, Rabu (19/2/2020).

Ia menjelaskan, kejahatan konvensional yang menjadi perhatian serius, seperti pembunuhan, perampokan, pencurian dengan kekerasan dan pemberatan, serta pencurian kendaraan bermotor.

Kemudian, kejahatan transnasional, seperti peredaran gelap narkoba serta kejahatan terorganisasi lainnya, seperti pencucian uang, penyelundupan manusia, kejahatan siber, serta perdagangan manusia, senjata, hewan terancam punah, dan perdagangan organ tubuh.

Sementara, kejahatan yang dapat menimbulkan kerugian negara, misalnya tindak pidana korupsi, kemudian kejahatan konvergensi, seperti penggabungan kejahatan konvensional dengan pemanfaatan teknologi.

Untuk melakukan pemberantasan aksi kejahatan tersebut, dia mengharapkan partisipasi dari semua pihak dan lapisan masyarakat di 17 kabupaten dan kota dalam provinsi setempat.

Guna meningkatkan partisipasi masyarakat memberantas berbagai aksi kejahatan, pihaknya rutin menggelar pertemuan dengan masyarakat dan instansi terkait, serta menggelar safari Jumat ke masjid-masjid.

"Masyarakat diharapkan berpartispasi menjaga keamananan lingkungan masing-masing dan melaporkan kepada aparat kepolisian terdekat jika mengetahui seseorang atau sekelompok masyarakat berpotensi melakukan tindakan kejahatan yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat dan gangguan kamtibmas," ujar Kombes Pol Supriadi. (*)

Buka Komentar
Tutup Komentar
No comments:
Write comment

Siapapun boleh berkomentar, tetapi dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).

TOPIK

Back to Top